Subhanallah, 70 Anak Asal Timor Leste Masuk Islam

 

Tuhan ketika akan memberikan hidayah, pasti akan memberikannya ke semua orang tanpa terkecuali, hanya tinggal apakah orang itu bisa merasakan hidayah dari Tuhan atau tidak,”.

 

 

BeritaIslamOnline.Com – – Itulah yang terlontar dari seorang Dodi Freitas (17), anak asli Timor Leste yang baru saja mengucapkan dua kalimat syahadat, dan resmi memeluk agama Islam.

 

Hari Rabu tanggal 9 Agustus 2017 menjadi sebuah hari yang istimewa dan tak terlupakan, ketika puluhan, tepatnya 70 anak asal Timor Timur atau Timor Leste, dengan penuh keyakinan bersyahadat di Pondok Pesantren Al Istiqomah, Cijerah, perbatasan Kota Cimahi dan Kota Bandung.

paket buku pernikahan

 

Mengenakan pakaian koko berwarna putih lengkap dengan sarungnya, mereka duduk sambil menunggu giliran untuk mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan ustad dan saksi. Menit demi menit terlalui, hingga akhirnya tiba giliran Dodi Freitas. Tanpa didampingi kedua orang tuanya, remaja bertubuh tinggi besar itu, sedikit terbata-bata ketika mengucapkan kalimat syahadat dalam bahasa arab, yang asing ditelinganya.

 

Butuh waktu hanya 5 menit, berubahlah kehidupannya, karena ia resmi memeluk agama dengan penganut paling banyak di Indonesia. Sempat menitikkan air mata, Dodi Freitas memilih nama Muhammad Kholiq sebagai nama barunya.

 

Dengan logat khas orang timur, Kholiq, mengisahkan perjalanan awalnya mulai dari pertama kali menjejakkan kaki di tanah pasundan, hingga akhirnya bisa memeluk agama islam.

 

Berawal dari tujuh orang alumni yayasan Lemorai, yang dalam bahasa Indonesia berarti merantau, yang ternyata satu kampung halaman dengan dirinya, mengajak Kholiq dan anak-anak lainnya untuk datang ke Cimahi, guna menuntut ilmu.

 

Kondisi kehidupan yang serba tidak menentu dan isu agama yang cukup kencang berhembus di Timor Leste, Kholiq bersama ketiga adik dan anak-anak lainnya, akhirnya mendapat restu untuk berangkat ke Cimahi.

 

Menempuh perjalanan laut selamat 15 hari lamanya, perasaan rindu orang tua dan kampung halaman, sempat mengerayangi pikirannya. Namun keinginan untuk membawa perubahan bagi tanah Timor Leste, tak kalah kuat juga.

 

“Kami datang ke Cimahi itu waktu bulan puasa. Perlu adaptasi sama lingkungan. Kami belajar banyak tentang agama islam, sampai akhirnya saya memutuskan bersyahadat,” ujarnya.

 

Hambatan lain yang harus dilaluinya adalah bagaimana ia meyakinkan ayah dan ibunya. Berkomunikasi cukup lama, dengan penuh perjuangan, akhirnya Kholiq sukses meluluhkan kerasnya hati orangtuanya.

 

“Orangtua saya juga sempat mendapatkan ancaman dari tokoh agama disana, katanya kalau sampai saya masuk islam, mereka tidak bisa bertemu saya lagi,” katanya.

 

Pengalaman unik dan tak pernah dibayangkan olehnya, ketika ia harus menjalani prosesi khitanan. Dengan wajah pucat pasi, ia memberanikan diri untuk dikhitan, agar tak.jatuh harga diri di hadapan adik-adiknya.

 

“Sampai sekarang masih sakit dan basah, saya belum berani mandi. Tapi saya tidak mau kalah dengan anak-anak kecil yang lain, dan memabg ini adalah kewajiban,” paparnya.

Jalan panjang masih terbentang dihadapan Kholiq dan anak-anak Timor Leste lainnya. Selain harus terus memupuk keimanan mereka sebagai muslim baru, mereka juga harus rajin belajar agar bisa bersekolah setinggi mungkin.

 

“Saya ingin kuliah jurusan dakwah di salah satu universitas di Kota Bandung. Saya harus kembali ke Timor Leste, membantu orang-orang disana dan menyebarkan agama islam,” tandasnya.

Suasana ikrar syahadat yang mengharukan

Arif Marzuki (53), merupakan sosok yang dianggap sangat berjasa oleh anak-anak. Dirinyalah yang pertama kali mengajak mereka untuk menuntut ilmu di tanah jawa, tanah yang asing bagi anak-anak korban perang saudara itu.

 

“Anak-anak datang kesini yang pertama untuk belajar mereka datang atas persetujuan orang tua. Anak-anak ini kebanyakan korban pengungsian tahun 1999 dan tinggal di perbatasan, ada yang yatim, ada yang piatu, atau yatim piatu. Tapi hal yang sama dari mereka semua, mereka itu tidak sekolah,” ujarnya.

 

Arif yang juga berasal dari Timor Leste, mendirikan yayasan Lemorai demi memberikan kehidupan yang laik bagi anak-anak itu. Bagi pria yang telah memeluk islam sejak tahun 1989 itu, berbagi merupakan kewajiban untuknya.

 

“Saya melihat untuk kedepannya dengan memberikan peluang kepada mereka untuk belajar ilmu umum dan agama sehingga jika mreka kembali kedaerahnya akan menjadi manfaat bagi daerahnya,” jelasnya.

 

Yayasan Lemurai yang didirikannya pada tahun 1999 dan pindah ke Sumedang pada tahun 2000, kini memiliki 448 anak didik dan lulusan yang telah tersebar ke seantero Indonesia. Ia bercerita, oerlu biaya yang sangat besar untuk menghidup anak-anak perantauan, mulai dari makanan sehari-hari, biaya sekolah, dan untuk mereka yang berkuliah, tentunya biaya untuk kos.

“Kalau dikatakan secara khusus berawal dari keinginan mengislamkan keluarga dan saya ingin tidak ada lagi yang bermusuhan karena agama

Mereka diberikesempatan sekolah setinggi-tingginya. Umat islam itu sebenarnya duitnya banyak. Dan siapa tahu banyak pula hamba Allah yang menitipkan rezekinya untuk pendidikan bagi anak-anak ini,” ceritanya.

 

Apa yang dilakukannya, dan semua nominal yang telah dutumpahkan demi memperbaiki kehidupan anak-anak dari timur Indonesia itu, sedikutpun tidak menerima bantuan dari pemerintah. “Untuk urusan agama, saya tidak pernah berharap bantuan dari pemerintah,” pungkasnya.

 

Sebuah pengalaman berharga untuk Ustad Asep Mulyana Ismail, yang telah membimbing dan mensyahadatkan 70 anak-anak Timor Leste, sehingga berkesempatan merasakan indahnya persaudaraan dalam islam.

 

“Saya sangat terharu ketika mereka berada di hadapan saya, mengucapkan dua kalimat syahadat, hingga menyalami saya sudah dalam keadaan islam. Kita semua harus membimbing mereka agar lebih baik lagi, agar mereka merasa memiliki saudara,” ceritanya. [Ifal ]

 

Red: admin

Editor: admin

Sumber: beritaaktualislam.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *