Tips Mendidik Agar Anak Cerdas

JAKARTA, BERITA ISLAM ONLINE.COM – – Anak merupakan amanat dan titipan Allah Swt. Agar para calon pemimpin bangsa ini menjadi sumber daya manusia yang berkualitas: baik sehat jasmani, psikis, sosial, dan intelektualnya, anak harus dipersiapkan secara intensif sedini mungkin, yakni dengan proses pengasuhan prima sejak dalam kandungan.

Pada hakikatnya, anak akan mewarisi sifat kedua orang tuanya, kemudian ia akan berinteraksi dengan lingkungannya. Lingkungan yang pertama dan utama yang akan sangat mempengaruhi proses hidup dan kehidupan anak adalah lingkungan keluarga. Sehingga bagaimana pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya, akan sangat menentukan kepribadian anak selanjutnya. Baru setelah itu ada pengaruh lingkungan tetangga, sekolah, dan masyarakat luas.

Jumlah balita di Indonesia sangat besar, diperkirakan sekitar 10% dari seluruh populasi. Mereka merupakan generasi penerus bangsa yang perlu perhatian karena awal kehidupan merupakan masa yang sangat peka terhadap lingkungan. Berbeda dengan otak orang dewasa, otak balita lebih plastis. Plastisitas otak ini mempunyai sisi positif dan negatif. Sisi positifnya, otak balita lebih terbuka untuk belajar dan diperkaya. Sedangkan sisi negatifnya adalah otak balita lebih peka terhadap lingkungan, terutama lingkungan yang tidak mendukung, termasuk kemiskinan dan stimulasi yang kurang. Sehingga masa ini disebut juga sebagai “masa keemasan” (golden period), “jendela kesempatan” (window of opportunity), atau “masa kritis” (critical period). Berhubung masa ini tidak berlangsung lama, anak harus mendapat perhatian yang serius, yaitu: gizi yang baik, stimulasi yang memadai, mengeliminasi faktor-faktor lingkungan yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak, juga deteksi dini terhadap penyimpangan tumbuh kembang.

 

Organ Otak

Organ otak terdiri atas dua belahan otak besar (serebrum), dua belahan otak kecil  (serebellum), dan batang otak. Otak pada bayi yang baru lahir berbobot kurang lebih 400 gram dan pada orang dewasa kurang lebih 1,3 kg. Jaringan otak berkepadatan lunak seperti tahu. Pada permukaan otak terdapat lapisan tipis jaringan yang berwarna abu-abu, karena itu disebut zat kelabu (substansia grisea). Dalam lapisan ini terdapat sel saraf yang mengandung inti. Jumlah sel saraf yang membentuk otak sedikitnya 100 miliar buah. Substansia grisea permukaan otak ini terletaknya di luar, disebut korteks serebri. Di bawah korteks terdapat jaringan berwarna putih karena itu disebut zat putih (substansia alba) yang terdiri atas saraf-saraf yang menjulur dari badan-badan sel saraf yang sebagian diliputi simpai lemak yang memberikan warna putih.

 

Pusat-pusat fungsi dalam koteks serebri

Di bagian belakang dahi terdapat pusat gerakan (pusat motorik). Bila daerah ini rusak, timbul kelumpuhan pada sebelah badan sisi bertentangan. Di belakang pusat gerakan ini, di lobus parietalis, terdapat pusat fungsi rasa kulit, yaitu rasa nyeri, tekanan, panas, dingin, rasa gerak, dan rasa arah gerak. Di bagian belakang kepala terdapat pusat penglihatan. Di girus/lobus temporalis terdapat pusat pendengaran. Pusat wicara (Broca) di girus frontalis inferior hemisfer kiri. Pusat pengertian bahasa (Wernicke) di girus temporalis superior. Kerusakan di daerah-daerah ini akan menimbulkan gangguan pada fungsi bersangkutan.

Sel-sel otak janin dibentuk sejak 3-4 bulan di dalam kandungan ibu, kemudian setelah lahir sampai 3-4 tahun jumlahnya bertambah dengan cepat mencapai miliaran sel, tetapi belum ada hubungan antarsel-sel tersebut. Mulai kehamilan 6 bulan, dibentuklah hubungan antarsel sehingna membentuk rangkaian fungsi-fungsi. Kualitas dan kompleksitas rangkaian hubungan antarsel-sel otak ditentukan oleh stimulasi (rangsangan) yang dilakukan oleh lingkungan bayi-balita tersebut. Semakin bervariasi rangsangan yang diterima bayi-balita, semakin kompleks hubungan antarsel-sel otak. Semakin sering dan teratur rangsangan yang diterima, semakin kuat hubungan antarsel-sel otak tersebut. Semakin kompleks dan kuat hubungan antarsel-sel otak, semakin tinggi dan bervariasi kecerdasan anak di kemudian hari. Bila dikembangkan terus menerus, anak akan memiliki banyak variasi kecerdasan.

 

Pengertian Tumbuh Kembang

Pertumbuhan ialah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler. Ini berarti bertambahnnya ukuran fisik dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau keseluruhan. Jadi, bersifat kuantitatif sehingga dapat kita ukur dengan mempergunakan satuan panjang atau satuan berat.

Perkembangan ialah bertambahnya kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, jadi bersifat kualitatif yang pengukurannya jauh lebih sulit daripada pengukuran pertumbuhan. Dalam nilai perkembangan, secara umum ada empat aspek yang dinilai, yaitu:

  • Perilaku sosial (personal sosial): aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan.
  • Gerakan motorik halus: aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat.
  • Bahasa: kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara, mengikuti perintah, dan berbicara spontan.
  • Gerakan motorik kasar: aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Tumbuh Kembang

Pada umumnya, anak memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan yang normal dan ini merupakan hasil interaksi banyak faktor yang memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan.

  1. Faktor internal

Perbedaan ras/etnik atau bangsa, keluarga, umur, jenis kelamin, kelainan genetik, kelainan kromosom.

  1. Faktor eksternal/lingkungan

2.1 Faktor Pranatal

Gizi, mekanis, toksin/zat kimia, endokrin, radiasi, infeksi, kelainan imunologi,   anoksia embrio, psikologi ibu.

  • Faktor persalinan
  • Faktor pascanatal

Gizi, penyakit kronis/kelainan kongetial, lingkungan fisi dan kimia, psikologis, endokrin, sosio-ekonomi, lingkungan pengasuhan, stimulasi, obat-obatan.

 

Faktor manakah yang paling berperan, apakah intrinsik atau ekstrinsik? Para ahli berdebat panjang mengenai hal ini, akan tetapi pada saat ini kita sudah sepakat bahwa faktor ekstrinsik lebih berpengaruh dibandingkan instrinsik, serta faktor ekstrinsik yang sangat dominant adalah faktor gizi/nutrisi dan stimulasi.

Gizi/Nutrisi

Berbagai penelitian mengungkapkan korelasi positif antara gizi, terutama pada masa pertumbuhan pesat, dengan perkembangan fungsi otak. Ini berlaku sejak anak masih berbentuk janin dalam rahim ibu. Pada janin, terjadi pertumbuhan otak secara proliferatif (bertambahnya jumlah sel), artinya terjadi pembelahan sel yang sangat pesat. Kalau pada masa itu asupan gizi pada ibunya kurang, asupan gizi pada janin juga kurang. Akibatnya, jumlah sel otak menurun, terutama cerebrum dan cerebellum, diikuti dengan penurunan jumlah protein, glikosida, lipid, dan enzim.

Fungsi neurotransmitter-nya pun menjadi tidak normal. Seiring bertambahnya usia janin atau bayi, bertambah pula bobot otak. Ukuran lingkar kepala juga bertambah. Karena itu, untuk mengetahui perkembangan otak janin dan bayi berusia kurang dari setahun, dapat dilakukan secara tidak langsung, yakni dengan mengukur lingkar kepala janin.

Begitu lahir pun, faktor gizi masih tetap berpengaruh terhadap otak bayi. Jika kekurangan gizi terjadi sebelum usia 8 bulan, tidak cuma sel yang berkurang, ukuran sel juga mengecil. Saat itu sebenarnya terjadi pertumbuhan hipertropik, yakni pertambahan besar ukuran sel. Penelitian menunjukan, bayi yang kekurangan kalori protein (KKP) memiliki berat bobot otak 15–20% lebih ringan dibandingkan bayi normal. Defisitnya bahkan bisa mencapi 40% bila KKP berlangsung sejak berwujud janin. Karena itu, anak-anak penderita KKP umumnya memiliki IQ rendah. Kemampuan abstraktif, verbal, dan mengingat mereka lebih rendah daripada anak yang mendapatkan gizi baik.

 

Stimulasi

Stimulasi adalah perangsangan dan latihan-latihan terhadap kepandaian anak yang datangnya dari lingkungan di luar anak. Tujuan stimulasi perkembangan adalah untuk membantu anak agar mencapai tingkat perkembangan yang baik dan optimal sesuai dengan kemampuan genetiknya. Stimulasi yang dilakukan sejak lahir, terus menerus, bervariasi, dengan suasana bermain dan kasih sayang, akan memacu berbagai aspek kecerdasan anak.

Stimulasi harus diberikan secara teratur pada anak sehat yang perkembangannya baik, jadi jangan menunggu sampai perkembangan anak menjadi terlambat dan baru kemudian distimulasi. Stimulasi terbaik diberikan pada saat kondisi fisik maupun mental anak telah siap menerima stimulasi sesuai dengan umur perkembangannya.

Contoh: saat yang terbaik untuk melatih (stimulasi) kemmpuan berjalan adalah pada usia 10 – 11 bulan. Karena pada usia ini –baik fisik maupun mental—anak telah siap untuk dilatih berjalan sehingga akan diperoleh hasil yang optimal.

 

Prinsip umum melakukan stimualsi

Saat bermain dengan anak merupakan saat identik untuk memberikan stimulasi perkembangan. Secara umum, prinsip-prinsip melakukan stimulasi adalah sebagai berikut.

  • Sebagai ungkapan rasa kasih sayang
  • Bertahap dan berkelanjutan, serta mencakup empat bidang kemmpuan perkembangan
  • Dimulai dari kemampuan perkembangan yang telah dipunyai anak, dilanjutkan pada kemampuan perkembangan yang seharusnya dicapai pada usia tersebut
  • Dilakukan secara wajar, santai, tanpa paksaan atau hukuman, tanpa pernah sekalipun alpa bahwa gaya hidup anak adalah bermain sehingga tercipta suasana yang menyenangkan
  • Anak harus selalu diberi pujian atas keberhasilannya
  • Bila diperlukan alat bantu stimulai, harus yang tidak berbahaya, sederhana, dan mudah didapat
  • Stimulasi harus bervariasi agar tidak membosankan

Untuk mencapi tumbuh kembang yang optimal, kebutuhannya harus dipenuhi. Nutrisi dan stimulasi merupakan faktor yang sangat menentukan.[ Dikutip dari www.percikaniman.id]

 

Redaktur: admin [Berita Islam Online Terpercaya

 

BACA JUGA: Dampak Buruk Jika Anak Kecanduan Gadget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *