Hukum Memakai Behel Gigi

JAKARTA, BERITA ISLAM ONLINE.COM – – Gigi adalah salah satu organ penting dalam tubuh kita. Fungsi utama dari gigi adalah untuk mengunyah makanan sehingga menjadi lembek atau lunak dan lembut saat ditelan kemudian mempermudah proses pencernaan di dalam perut. Selain fungsi tersebut, keberadaan gigi juga sebagai salah satu aspek penting dalam mendukung penampilan diri seseorang.

Mempunyai susunan gigi yang rapi akan membuat seseorang lebih percaya diri. Demikian juga sebaliknya, jika susunan giginya kurang atau tidak rapi maka orang akan merasa kurang percaya diri bahkan sekedar untuk tersenyum sekali pun. Untuk menutupi kekurangan sempurnaan gigi ini beberapa orang rela melakukan operasi atau sekedar merapikannya dengan kawat gigi atau behel. Lalu bagaimana tinjauan Islam akan menggunakan kawat gigi atau behel ini? Haram, mubah atau halal alias boleh-boleh saja? Dihimpun dari berbagai sumber berikut penjelasannya secara singkat.

Menurut pendapat kalangan ulama hukum merapikan dan meratakan gigi dengan kawat gigi ada dua jenis, yakni yang pertama diharamkan dan  kedua diperbolehkan.

Diperbolehkan jika penggunaan kawat atau behel tersebut ditujukan untuk menghilangkan penyakit atau untuk kesehatan atau cacat maka hukumnya diperbolehkan.Demikian juga jika penggunaan kawat gigi atau behel tersebut bertujuan untuk kesehatan sebab gigi tersebut tidak bisa berfungsi jika memakai behel, misalnya tidak bisa makan, susah berbicara dan sebagainya.

Adapun jika seseorang memakai kawat gigi karena adanya cacat pada gigi, seperti: giginya gingsul, sususan giginya sangat kontras antara tinggi dan rendahnya sehingga sangat susah untuk makan, sebagian giginya sangat maju ke depan atau sangat mundur ke belakang sehingga susah dan sakit untuk menutup mulut, dll, maka ini dikategorikan sebagai cacat, yang dia boleh memasang kawat gigi untuk merapikannya. Adapun dalil yang membolehkannya jika ada penyakit atau cacat adalah sebagai berikut:

“Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Tharfah bahwasanya kakeknya yang bernama ‘Arjafah bin As’ad radhiallahu ‘anhu terpotong hidungnya ketika perang Al-Kulab. Kemudian beliau membuat hidung buatan dari perak, ternyata hidungnya membusuk. Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam, menyuruhnya untuk memakai hidung buatan dari emas”. ( HR.Abu Daud)

Ini menunjukkan bolehnya menggunakan sesuatu untuk menghilangkan aib seseorang. Begitu pula dalam sebuah atsar, diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau berkata:

Dilaknat: wanita yang menyambung rambut dan yang minta disambungkan rambutnya, wanita yang mencukur alis dan yang dicukur alisnya dan wanita yang mentato dan yang minta ditato, jika tidak ada penyakit” (HR. Abu Daud).

 

Hadits ini menunjukkan bahwa hal-hal tersebut jika dilakukan karena adanya penyakit, maka hukumnya diperbolehkan, seperti seseorang yang memiliki penyakit kulit di alisnya dan mengharuskan untuk mencukur alisnya agar bisa sembuh, maka tidak mengapa dia melakukannya.

 

Sementara memakai gawat gigi atau behel menjadi diharamkan atau terlarang  jika penggunaan kawat gigi atau behel tersebut ditujukan untuk mempercantik diri. Hal ini dianggap dan termasuk mengubah mengubah ciptaan Allah Swt,

“Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka, lalu benar-benar mereka mengubah ciptaan Allah. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata” (QS An-Nisa’: 119).

Banyak ulama yang menggunakan ayat ini sebagai dalil atas larangan mengubah ciptaan Allah Swt terhadap apa yang telah Allah Swt karuniakan kepada kita semua termasuk operasi dan penggunaan kawat gigi atau behel. Dalilnya sebagaimana yang telah Rasulullah Saw sebagai berikut,

“Allah melaknat wanita-wanita yang membuat tato dan yang minta dibuatkan tato, yang mencukur alis dan yang merenggangkan gigi untuk kecantikan, yang mereka itu mengubah-ubah ciptaan Allah” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Pada zaman Rasulullah Saw, yang mudah dilakukan adalah merenggangkan gigi untuk mempercantik diri dan ternyata hal tersebut dilarang oleh Rasulullah Saw. Dari dua dalil di atas kiranya kita dapat memahami bahwa hukum asal mengubah apa yang Allah Swt ciptakan untuk kita adalah haram, apalagi jika tujuannya adalah untuk mempercantik diri, untuk sombong dan punya rasa kebanggaan tersendiri. Sebagaimana hukum merubah gigi, maka hukum merubah ciptaan Allah yang lain juga diharamkan seperti: melakukan operasi plastik untuk memancungkan hidung, merubah bentuk kelopak mata, membesarkan anggota badan tertentu atau mengecilkannya dll.

Namun ada jenis mengubah ciptaan Allah Swt yang disyariatkan untuk diubah, dan itu disyariatkan di dalam syariat kita, seperti: memendekkan kumis, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, berkhitan (sunat) bagi laki-laki dan perempuan dan memotong kuku maka yang demikian ini diperintahkan oleh Rasulullah Saw sebagai sunnahnya. [ ]

5

Redaktur: admin [Berita Islam Online Terpercaya

983

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *