Syarat Poligami Dalam Islam

JAKARTA, BERITA ISLAM ONLINE.COM – – Islam adalah ajaran yang mulia dan agung serta sudah pasti dijamin kebenarannya sebab Allah Swt sendiri yang menurunkan syariat-Nya melalui Rasulullah Muhammad Saw. Salah satu ajaran dan syariat dalam Islam adalah perkara poligami (ta’adud) atau seorang suami mempunyai istri lebih dari satu baik itu dua,tiga hingga empat.

Poligami adalah salah satu di antara syariat Islam yang halal dan dicontohkan Rasulullah Saw. Poligami juga banyak dipraktikan para sahabat dan ummat Islam hingga saat ini. Namun juga syariat yang banyak ditentang di antara kaum muslimin khususnya kaum wanita. Sebab dianggap tidak adil dan banyak merugikan wanita baik lahir maupun batin.

Namun sejatinya jika dipahami secara mendalam dengan hati yang jernih maka poligami sendiri bukanlah seperti yang mereka pikirkan yang hanya dianggap sebagai pelampiasan dorongan nafsu seksual semata. Secara umum hukum poligami adalah sunnag, namun para ulama menilai hukum poligami dengan hukum yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi seseorang yang menjalankannya bisa dianggap wajib jika suami tersebut adil, mampu lahir dan batin, istri ridho dan berkecukupan segalanya.

paket buku pernikahan

Bisa jatuh menjadi sunnah, namun bisa juga menjadi haram jika suami tersebut tidak bisa adil, tidak punya kemampuan lahir dan batin, akan berlaku dzolim dan sebagainyaSementara itu Syaikh Mustafa Al-Adawiy dalam bukunya Ahkamun Nikah Waz Zafaf menyebutkan bahwa hukum poligami adalah sunnah dengan mempersyaratkan 5 hal:

Pertama, suami mampu berbuat adil

Seorang pelaku poligami, harus memiliki sikap adil di antara para istrinya. Tidak boleh ia condong kepada salah satu istrinya. Hal ini akan mengakibatkan kezhaliman kepada istri-istrinya yang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

Siapa saja orangnya yang memiliki dua istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa-i, At-Tirmidzi)

Selain adil, ia juga harus seorang yang tegas. Karena boleh jadi salah satu istrinya merayunya agar ia tetap bermalam di rumahnya, padahal malam itu adalah jatah bermalam di tempat istri yang lain. Maka ia harus tegas menolak rayuan salah satu istrinya untuk tetap bermalam di rumahnya. Jadi, jika ia tak mampu melakukan hal itu, maka cukup satu istri saja. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

“…kemudian jika kamu khawatir tidak mampu berbuat adil, maka nikahilah satu orang saja…” (QS. An-Nisa: 3)

 

Kedua, ia aman dari lalai beribadah kepada Allah Swt

 

Menikah adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah Swt maka seorang suami yang menikah lagi (poligami) ia harus bertambah ibadahnya. Seorang yang melakukan poligami, harusnya ia bertambah ketakwaannya kepada Allah, dan rajin dalam beribadah. Namun ketika setelah ia melaksanakan syariat tersebut, tapi malah lalai beribadah, maka poligami menjadi fitnah baginya. Dan ia bukanlah orang yang pantas dalam melakukan poligami. Simak firman Allah Swt dalam Al Quran sebagai peringatan,

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (QS. At-Taghabun: 14)

Untuk itu hendaknya suami yang menikah lagi tidak lalai dalam ibadah. Menggauli atau bersetubuh dengan istri adalah ibadah, namun jangan hal tersebut yang didahululan dalam melaksanakan ibadah kepada Allah Swt.

 

 

 

Ketiga, suami harus mampu menjaga kehormatan para istrinya

 

Seorang suami adalah pemimpin dalam rumah tangga maka ketika ia menikah lahi sudah menjadi kewajiban bagi suami untuk menjaga istri-istrinya. Sehingga istrinya terjaga agama dan kehormatannya. Ketika seseorang berpoligami, otomatis perempuan yang ia jaga tidak hanya satu, namun lebih dari satu. Ia harus dapat menjaga para istrinya agar tidak terjerumus dalam keburukan dan kerusakan.

Misalnya seorang yang memiliki tiga orang istri, namun ia hanya mampu memenuhi kebutuhan biologis untuk dua orang istrinya saja. Sehingga ia menelantarkan istrinya yang lain. Dan hal ini adalah sebuah kezhaliman terhadap hak istri. Dampak yang paling parah terjadi, istrinya akan mencari kepuasan kepada selain suaminya, alias berzina. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang memiliki kemapuan untuk menikah, maka menikahlah…” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Untuk itu seorang suami yang memiliki istri lebih dari satu, selain ia harus mempunyai kemampuan financial (keuangan / materi) maka ia juga harus memiliki kemampuan seksual yakni mampu memuaskan istri-istrinya dalam berhubungan intim. Jangan sampai ia hanya mampu memuaskan satu istri sementara istri yang lainnya menderita batin.

 

Keempat, suami harus mampu memberi nafkah lahir

 

Salah satu yang ditekankan dalam menikah khususnya satu istri adalah kemampuan memberi nafkah lahir yakni kebutuhan harian dari pangan, sandang (pakian) dan papan ( rumah atau tempat tinggal). Untuk itu seorang yang berpoligami, wajib mencukupi kebutuhan nafkah lahir para istrinya. Bagaimana ia ingin berpoligami, sementara nafkah untuk satu orang istri saja belum cukup? Orang semacam ini sangat berhak untuk dilarang berpoligami atau haram berpoligami. Dalam Al Quran Allah Swt berfirman,

“Dan orang-orang yang tidak mampu menikah, hendaklah menjaga kesucian (dirinya), sampai Allah memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya…” (QS. An-Nur: 33)

 

Kebutuhan lahir ini salah satu aspek penting yang harus diperhatikan seorang suami jika hendak berpoligami. Jangan sampai ia hanya mampu memberi nafkah batin (seksual) sementara kebutuhan pokoknya terlantar. Untuk itu sebaiknya perhatikan kemampuan financialnya.

 

Kelima, Suami tidak boleh menikahi wanita yang bersaudara

 

Diharamkan bagi suami mengumpulkan wanita-wanita yang masih ada tali persaudaraan menjadi isterinya. Misalnya, menikah dengan kakak dan adik, ibu dan anaknya, anak saudara dengan ibu saudara baik sebelah ayah maapun ibu. Tujuan pengharaman ini ialah untuk menjaga silaturrahim antara anggota-anggota keluarga. Dalam haditsnya Rasulullah Saw bersabda,

Sesungguhnya kalau kamu berbuat yang demikian itu, akibatnya kamu akan memutuskan silaturrahim di antara sesama kamu.” (HR. Bukhari  dan Muslim)

Kemudian dalam hadis yang lain Rasulullah Saw juga memperkuatkan larangan ini,

Bahawa Ummu Habibah (isteri Rasulullah) mengusulkan agar baginda menikahi adiknya. Maka beliau menjawab; “Sesungguhnya dia tidak halal untukku.” (HR. Bukhari dan Nasa’i)

Dalam sebuah riwayat dikisahkan seorang sahabat bernama Fairuz Ad-Dailamy setelah memeluk agama Islam, beliau memberitahu kepada Rasulullah Saw bahwa beliau mempunyai isteri yang kakak beradik. Maka Rasulullah menyuruhnya memilih salah seorang di antara mereka dan menceraikan yang satunya lagi. Jadi telah disepakati tentang haramnya mengumpulkan kakak beradik ini di dalam Islam.

Poligami adalah syariat Islam yang mulia yang bisa bernilai ibadah dan memberikan kebahagian dunia dan insya Allah hingga akhirat. Namun untuk melaksanakan syariat tersebut membutuhkan ilmu, dan terpenuhi syarat-syaratnya materi lainnya. Jika Anda merasa tidak mampu memenuhi 5 syarat di atas, maka jangan coba-coba untuk berpoligami. Jangan beribadah lewat poligami namun cobalah beribadah lewat pintu yang lain seperti shalat sunnah, puasa sunnah, menyantuni fakir miskin dan sebagainya. Tunjukkan bahwa berpoligami itu bukan sekedar memenuhi urusan syahwat semata melainkan mencari ridho Allah Swt. [ ]

5

Redaksi: admin [Berita Islam Online Terpercaya]   

 

945

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *