Hukum Menembok Kuburan, Bolehkah Dalam Islam

 

YOGYAKARTA, BIO.COM – – Menembok kuburan, atau, membangun makam, bagaimana dalam Islam? Boleh atau terlarang.  Membangun atau menembok kuburan masih dianggap sebagai salah satu bentuk berbakti seorang anak kepada orangtuanya. Demikian juga dengan orangtua kepada anaknya yang lebih dulu meninggal dunia.

 

Padahal tida ada kaitannya, cinta orang yang masih  hidup dengan yang sudah meninggal dengan membaguskan kuburannya. Membangun kuburan salah satu ciri dari bermegah-megahan, yang hukumnya terlarang.  Adapun, kuburan yang sekedar diberi tanda semisal berupa kayu atau batu yang dimaksudkan agar orang tahu bahwa ditempat itu ada kuburan dan tidak menginjak-injaknya, tentu saja diperbolehkan.  Salah satu dalil yang dijadikan larangan adalah seperti yang disampaikan Ibnu Jabir,

 

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang kuburan dikapur, diduduki, dan dibangun” (HR.Muslim dan muttafaqun alaih)

 

Membangun lebih dari itu, tentu saja tidak dianjurkan apalagi sampai membuat bangunan khusus yang terbuat dari marmer atau semacamnya. Itu termasuk ke dalam perbuatan yang berlebihan dan tidak disukai dalam Islam.

 

Berkaitan dengan hukum menembok di atas kuburan, terdapat beberapa dalil hadits-hadits yang berkenaan dengan pertanyaan saudara, antara lain :

 

Diriwayatkan dari Tsumamah bin Syufayya, ia berkata: Kami bersama Fadlalah bin ‘Ubaid di Negeri Rum, di Rudisa, kemudian teman kami wafat. Lalu Fadlalah bin ‘Ubaid menyuruh menguburnya dan meratakannya. Kemudian dia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw menyuruh supaya meratakannya.” (HR. Muslim, hadits no. 92/968).

 

Dalam hadits lain juga disebutkan “Diriwayatkan dari Jabir, ia berkata: Rasulullah saw melarang memplester kubur, mendudukinya dan mendirikan bangunan di atasnya.” (HR. Muslim, no. 94/970).

 

Kemudian masih dalam hadits Muslim juga ditegasakan bahwa  “Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Seseorang duduk di atas bara api, hingga membakar bajunya dan mengelupas kulitnya adalah lebih baik daripada duduk di atas kubur.” (HR. Muslim, no. 96/971).

 

Dari keterangan tersebut diatas  hadits di atas telah jelas dan tegas bahwa terdapat larangan meninggikan kuburan, membangunnya/memplester dan duduk di atasnya. Larangan menembok/membangun di atas kubur, bila dikaitkan dengan hadits larangan duduk di atas kubur secara logika dapat kita terima, karena seseorang akan duduk di atas kuburan manakala terdapat bangunan di atasnya.

 

Hadits yang terakhir tersebut melarang keras untuk duduk di atas kuburan, sampai-sampai lebih baik duduk di atas bara api, hingga membakar bajunya dan mengelupas kulitnya lebih baik daripada duduk di atas  kuburan.

 

Sebagian besar ulama, berpendapat bahwa larangan tersebut menunjukkan kepada tahrim(keharaman), dengan alasan untuk saddu az-zari’ah (menutup jalan perbuatan dosa), dan juga untuk menarik kemaslahatan dan menolak mafsadah (kerusukan aqidah). Kita dapat melihat di banyak kuburan orang-orang suci atau tokoh kharismatik telah dijadikan tempat berziarah sekaligus mencari berkah dan wangsit, bahkan ada pula yang minta do’a agar semua hajatnya terkabul.

 

BACA JUGA: Hukum Khitan Bagi Perempuan, Wajib atau Sunnah? 

 

Jika hendak membangun kuburan, cukup dengan membuat tanda untuk pembeda saja. Kita juga diperbolehkan untuk membersihkan kuburan dan mengamankan kuburan. Maksud ‘membangun’ dengan mengamankan kuburan tentu berbeda arti dan tujuan. Contoh kuburan di Baqi Arab Saudi juga seperti itu hanya sekedar tanda saja, bahkan kuburan seorang raja pun demikian.

 

Di zaman sekarang yang lahannya semakin sempit, sangatlah wajar bila kita mengamankan kuburan sanak famili kita yang telah meninggal agar lahannya tidak dipakai oleh orang lain. Adapun, membangun dengan maksud untuk bermegah-megah tentu itu tidak baik. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. [ Sumber:pdmjogya.org]

5

Redaksi: admi [Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

921

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *