Boleh Tidak Melakukan Insaminasi Buatan?

inseminasi buatan

INSAMINASI BUATAN, BIO.COM – – Salah satu kebahagiaan dalam keluarga adalah kehadiran seorang anak di dalamnya. Namun, karena alasan-alasan tertentu, ada beberapa keluarga yang belum bisa merasakan kenikmatan menggendong anak hingga pada akhirnya melakukan ikhtiar dengan melakukan insaminasi buatan. Namun, bagaimana Islam memandang hal tersebut? Ustadz Aam Amiruddin mencoba menjawab permasalahan ini.

 

Kebahagiaan dan ketentraman rumah tangga rasanya kian bermakna dan sempurna dengan kehadiran buah hati. Bahkan kebahagiaan itu bukan hanya dirasakan oleh pasangan suami istri saja melainkan oleh keluarga besar masing-masing pihak, saudara termasuk teman-teman kita. Dalam Alquran, Allah berfirman,

 

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Q.S. Ali Imran [3]: 14).

 

Inseminasi buatan atau dalam bahasa Inggris insemination, adalah pemasukan secara sengaja sel sperma ke dalam rahim atau serviks seorang wanita dengan tujuan memperoleh kehamilan melalui inseminasi (fertilisasi in vivo) dengan cara selain hubungan seksual. Ini juga arti inseminasi menurut medis atau kalangan kedokter.

BACA JUGA: Hukum Memakai Celana Diatas Mata Kaki

Mengenai pandangan Islam tentang inseminasi yang ditempuh untuk memperoleh keturunan, kita kembalikan hal itu pada dalil umum mengingat cara seperti itu merupakan penemuan baru yang belum terjadi di jaman Rasul sehingga tidak akan kita temukan dalil rinci mengenai hal tersebut.

 

Sejauh ini, ikhtiar memperoleh keturunan yang sah dalam Islam hanya melalui hubungan suami istri yang memungkinkan terjadinya proses percampuran antara sperma dengan sel telur secara langsung. Sementara itu, inseminasi adalah proses percampuran atau penempatan sperma pada ovum (organ reproduksi) secara tidak langsung.

Pada prinsipnya, kedua proses tersebut tidak memiliki banyak perbedaan, hanya prosesnya saja ada yang langsung dan ada yang tidak langsung. Kalau memang proses memperoleh keturunan dengan cara konvensional (hubungan suami istri secara langsung) sudah dicoba dan tidak membuahkan keturunan, maka inseminasi buatan sah-sah saja dilakukan selama sperma yang dipergunakan adalah betul-betul suami yang bersangkutan. Jika tidak, maka hal tersebut haram hukumnya.

Jadi jelas bahwa hal ini diperbolehkan oleh Islam asalkan sperma yang digunakan adlah betul dari suami.

Wallahu’alam bishshawwab.

 

Sumber: Tanya Jawab Ustadz Online bersama Ust Aam Amiruddin

 

Redaktur: admin  [Berita Islam Online Terkini & Terpercaya]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *