Hukum Menggilir Istri Menurut 4 Madzhab

istri

HUKUM MENGGILIR ISTRI MENURUT 4 MADZHAB, BIO.COM — Suami tidak boleh pilih kasih terhadap isteri-isterinya, tak boleh hanya memperhatikan satu isteri dan mengabaikan yang lain. Bahkan jumlah pembagian jatah gilir harus sama. Kecuali, jika salah satunya merelakan jatah gilirnya untuk diberikan pada madunya. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Bunda Saudah Bint Zam’ah yang memberikan jatah gilir pada madunya yang jauh lebih muda, Bunda Aisyah.

“Beliau SAW membagi giliran setiap istrinya sehari semalam, kecuali Saudah bintu Zam’ah, ia telah menghadiahkan hari dan malamnya untuk Aisyah.” (HR. Bukhari)

Rasulullah SAW dikenal sebagai lelaki yang paling adil dalam menggilir isteri-isterinya, bahkan dalam keadaan sakitpun beliau tetap menunaikan kewajiban dalam menggilir mereka, hingga pada akhirnya pada isteri beliau sendiri yang merelakan sang Baginda untuk beristirahat di salah satu isterinya, sebab kondisi kesehatan beliau yang sangat lemah. Hal tersebut dikisahkan oleh Bunda Aisyah RA:

“Sesungguhnya Rasulullah SAW berkeliling menggilir isteri-isterinya pada saat beliau sedang sakit, sampai pada akhirnya kami semua merelakan beliau (untuk tinggal di salah satunya)”. (HR. Bukhari dan Muslim)

BACA JUGA: Hukum Istri Menolak Ajakan Suami Karena Capek, Boleh atau Terlarang?

Saat sakit yang mengantarkan kepada kematian Rasulullah, beliau biasa bertanya, “Di mana (giliran) aku besok, di mana aku besok?” Beliau menginginkan tiba hari giliran Aisyah. Istri-istri beliau pun mengizinkan beliau untuk berdiam di mana saja yang beliau inginkan. Beliau pun tinggal di rumah Aisyah sampai meninggal di sisi Aisyah. (HR. Bukhari)

Saat Rasulullah sakit dan merasa bahwa ajalnya akan menjelang, sedangkan beliau berada di rumah Aisyah, beliau mengutus seseorang memanggil isteri-isterinya kemudian meminta izin pada mereka untuk tinggal di rumah Aisyah hingga beliau wafat.

Dari Aisyah RA sesungguhnya Rasulullah SAW mengutus seseorang untuk memanggil isteri-isterinya, setelah mereka berkumpul beliau SAW berkata ‘sungguh aku tidak mampu lagi untuk berkeliling ke rumah-rumah kalian, jika sekiranya kalian mengizinkan, maka aku akan tinggal di rumah Aisyah.’ (HR. Abu Dawud)

Berikut padangan para ulama mengenai wajib atau tidaknya seorang suami yang sakitnya sangat parah, hingga memberatkan untuk menggilir para isteri. Apakah ia tetap wajib menggilir, ataukah boleh memilih untuk tinggal di salah satunya saja?

Madzhab al-Hanafiyah

Secara dzahir, jika dalam keadaan sehat si suami tinggal di rumah isteri pertama selama sekian hari, maka di hari selanjutnya ia harus menggilir ke rumah isteri yang lain dengan jumlah hari yang sama, walaupun saat itu ia sakit. Jika di rumah isteri pertama ia tingga selama satu bulan misalnya, maka di rumah isteri yang lain ia juga harus memberi gilir selama satu bulan pula, baik dalam keadaan sehat maupun sakit. (Ibnu Abdin, Radd al-Mukhtar, jilid 2 hal 399)

Madzhab al-Malikiyyah

Jika suami tidak mampu berkeliling dari rumah isteri pertama ke rumah isteri yang lain sebab sakit yang memberatkannya, maka ia boleh tinggal di rumah salah satu isterinya yang dengan ikhlas ingin merawatnya selama ia sakit.

Pemilihan tempat dimana ia akan tinggal harus didasarkan pada siapa yang berkenan merawatnya, bukan didasarkan atas nafsu dan kecenderungan hati pada salah satunya. (Hasyiyah ad-Dasuqi, jilid 2 hal 340)

Madzhab asy-Syafi’iyah

Suami yang berpoligami wajib menggilir para isterinya, bahkan walaupun ia mengalami impotensi mapun sakit lainnya. Saat sakit menjelang ajalpun Rasulullah SAW tetap menggilir semua isterinya secara adil. Dan saat semua isterinya ridha barulah akhirnya beliau tinggal di rumah Aisyah hingga ajal menjemput.

Dari hadits tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa udzur ataupun sakit tidak menggugurkan kewajiban seorang suami untuk membagi jatah menginap di rumah para isterinya. (Al-Khatib As-Syirbini, Mughnil Muhtaj, jilid 3 hal 251)

Ulama fiqih berpendapat bahwa suami yang memiliki isteri wajib untuk menggilir isteri-isterinya, bahkan walaupun ia dalam keadaan sakit. Sebab pembagian gilir utamanya bukan berorientasi pada pemberian nafkah seksual, melainkan bertujuan untuk memberikan pendampingan dan perlindungan. Sehingga saat sakitpun, suami tetap wajib memberi jatah gilir. (al-Imam an-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, jilid 2 hal 67)

Madzhab al-Hanabilah

Jika sakit yang diderita si suami memberatkannya untuk menggilir jatah bermalam ke rumah isteri-isterinya, maka ia boleh tinggal di rumah salah satunya, dengan syarat telah mendapat persetujuan dari isteri yang lain. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah sebelum memutuskan untuk tinggal di rumah Aisyah menjelang wafatnya.

Jika para isterinya mengizinkan, maka suami boleh tinggal bersama salah satunya. Namun jika tidak, maka ia boleh menentukan dengan cara mengundi. Namun jika ia mau, ia juga boleh untuk tinggal sendirian tanpa membersamai satupun dari isterinya, jika ia memandang hal itu sebagai sikap yang paling adil. (Kasysyaf al-Qinna’, jilid 5 hal 200)

Kesimpulannya, seluruh ulama sepakat bahwa suami yang berpoligami wajib memberikan jatah gilir bermalam kepada semua isterinya secara adil. Terlepas apakah saat bermalam di rumah mereka itu ia menjima’ isterinya atau tidak. Sebab tujuan utama bermalam itu adalah memberikan pendampingan dan perlindungan sebagai suami terhadap isteri dan juga anak-anaknya.

Namun para ulama berbeda pendapat mengenai suami yang sakit dan tidak mampu berkeliling ke rumah setiap isterinya. Apakah ia bebas memilih tinggal di salah satu isterinya, ataukah ia harus meminta izin terlebih dulu pada semua isterinya saat memilih tinggal di salah satunya?

Ulama dari madzhab Maliki berpendapat bahwa ia bebas memilih tinggal di rumah salah satu isteri yang rela merawatnya selama sakit.

Namun mayoritas ulama dari madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hambali berpendapat bahwa suami harus meminta ridha dan izin pada semua isterinya saat ia ingin tinggal di rumah salah satu isterinya selama ia sakit. Jika mereka mengizinkan, maka ia boleh tinggal di salah satunya. Namun jika tidak, maka kewajibannya tidak gugur begitu saja. Artinya, semaksimal mungkin ia harus berkunjung ke rumah isteri-isterinya sesuai jadwal masing-masing, dengan sisa tenaga yang ia miliki.

Ulama dari madzhab Hambali menambahkan, bahwa jika isteri-isterinya tidak rela jika ia tinggal bersama salah satu dari mereka, ia boleh mengundi. Nama yang keluar dari undian tersebut akan menjadi tempat ia menghabiskan masa sakitnya. Namun jika ia memandang bahwa tinggal sendirian menjadi pilihan yang adil, maka ia boleh untuk ‘cuti’ sampai ia sembuh dari sakitnya. Artinya, selama sakit ia tidak mengunjungi satupun dari isteri-isterinya.

Berat sekali kewajiban yang ada di pundak seorang suami yang berpoligami. Hingga soal membagi giliranpun ia tak boleh lengah dan berat sebelah. Rasulullah memberi peringatan pada suami yang pilih kasih dan tidak adil pada isteri-isterinya, bahwa si suami ini akan datang di hari kiamat dengan berat sebelah akibat lumpuh di satu sisi tubuhnya.

Wallahu A’lam Bishshowab.

 

Sumber: rumahfiqih.com

 

Redaktur: admin  [Berita Islam Online Terkini & Terpercaya]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *