Puasa Setengah Hari Untuk Anak, Bolehkah?

puasa setengah hari untuk anak

PUASA SETENGAH HARI UNTUK ANAK, BIO.COM—Puasa merupakan satu hal yang sangat erat dengan umat muslim karena terdapat dalam rukun islam. Adapun puasa terbagi menjadi puasa wajib, yang dilaksanakan di bulan Ramadan, dan puasa sunnah, puasa harian yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Namun, di Indonesia, sering ditemukan istilah puasa setengah hari, khususnya untuk anak, yaitu puasa dari adzan subuh sampai adzan dzuhur berkumandang. Bagaimana islam mengaturnya?

Pengertian puasa secara syar’i adalah menahan diri untuk tidak melakukan makan, minum, hubungan badan dan pembatal puasa lainnya, dari terbit fajar hingga maghrib dalam rangka ibadah.

Pengertian ini berdasarkan firman Allah yang menjelaskan batasan puasa,

Makan dan minumlah kalian sampai betul-betul jelas bagi kalian benang putih di atas benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam. (QS. al-Baqarah: 187)

Di ayat tersebut, jelas bahwa puasa sejatinya adalah dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari (malam). Jadi, orang yang tidak makan, tidak minum kurang dari batasan itu, tidak bisa disebut puasa.

Adapun untuk pembelajaran anak, ada banyak hal yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah dengan mulai puasa setengah hari. Namun, perlu orang tua jelaskan pada sang buah hati bahwa puasa yang benar itu sampai maghrib agar kelak tidak ada kesalahpahaman.

BACA JUGA: Doa Berbuka Puasa Yang Benar Dan Shahih Menurut Islam

Akan menjadi lebih baik bila orang tua mengajak dan mendidik anak langsung melaksanakan puasa satu hari penuh agar si anak terbiasa. Hal ini seperti yang dicontohkan oleh para sahabat Nabi. Hal ini sesuai dengan Sabda Nabi.

Sahabat Rubayyi’ binti Mu’awwidz menceritakan,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang pada pagi hari di hari Asyura (10 Muharram) ke salah satu perkampungan Anshor, untuk mengumumkan,

Barangsiapa yang tidak berpuasa di pagi hari, maka hendaklah ia sempurnakan di sisa hari ini dengan berpuasa. Barangsiapa yang berpuasa di pagi harinya, hendaklah ia tetap berpuasa.

Ar Rubayyi’ melanjutkan,

Kami berpuasa setelah itu. Dan kami mengajak anak-anak kami untuk berpuasa. Kami membuatkan untuk mereka mainan dari bulu. Jika saat puasa mereka ingin makan, maka kami berikan pada mereka mainan tersebut. Akhirnya mereka terus terhibur sehingga mereka menjalankan puasa hingga waktu berbuka.” (HR. Bukhari)

Walau bagaimanapun setiap orang tua punya hak dan cara tersendiri untuk mendidik anaknya. Selama itu bertujuan baik dan sesuai dengan syariat, Insya Allah akan diganjar dengan kebaikan pula.

 

Wallahualam bishshawwab.

 

Sumber: KonsultasiSyariah.com

 

Redaktur: admin  [Berita Islam Online Terkini & Terpercaya]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *