Islam Nusantara, Anti Arab atau Anti Islam ?

SURABAYA,BIO.COM – – Islam Nusantara, atau biasa disingkat Isnus kembali menjadi pembicaraan hangat di masyarakat. Banyak kaum muslimin yang menolak dengan istilah atau pemahaman Islam Nusantara ini dengan alas an tidak ada dalam khazanah keislaman bahkan tidak sepantas jika Nusantara yang diidentikan dengan Indonesia disejajarkan dengan Islam yang rahmatan lil alamin.

 

Selain itu Islam adalah sebuah ajaran agama yang didalamnya ada syariat yang langsung dari Allah Swt untuk mengatur hidup dan kehidupan manusia serta panduan dalam beramal atau berbuat. Sementara Nusantara adalah wilayah atau letak geografis Negara Indonesia sehingga tidak bisa disematkan atau disejajarkan.

 

Namun sebagian orang menganggap ide Islam Nusantara tidak merusak kaidah maupun ajaran Islam itu sendiri. Baginya Islam Nusantara adalah ajaran Islam yang mengakomodasi adat, budaya dan tradisi yang sudah ada di Nusantara (Indonesia) sebelum Islam datang.

Lalu bagaimana sejatinya Islam Nusantara ini?

Jika merujuk pada pemahaman Ahlus Sunnah wal jamaah (aswaja) dengan mengacu  kepada perkataan Imam Malik bin Anas RA:

 

كل يؤخذ من كلامه ويرد ، الا صاحب هذا القبر . (واشار الى قبر الني صلى الله عليه وسلم).

 

Setiap dari kita (siapapun adanya) bisa diterima dan bisa juga ditolak pendapatnya, kecuali ucapan dari penghuni kubur ini (lantas Imam Malik menunjuk ke arah makam Rasulullah SAW)”

 

Berikut hasil diskusi:

 

  1. Isnus itu tidak bisa dipisahkan dengan paham liberal, jadi sangat disayangkan karena banyak kiyai yang menyetujuinya.

 

  1. Fenomena pemunculan Isnus sudah direncanakan (dibajak) oleh kaum Liberal, dan dijadikan jurus untuk sebagai pemecah belah umat Islam. Jelas di kalangan umat Islam akan timbul pro & kontra.

 

  1. Munculnya Isnus berawal dari fanatik buta oknum pengusung Islam Rahmatan Lil Alamin namun yang dimaksud adalah satu golongan saja.

 

  1. Penamaan ISNUS diviralkan oleh para penggiat Islib (Islam Liberal). Mereka memanfaatkan kiyai – kiyai sepuh NU yang tidak dapat mengikuti dunia Medsos, sehingga dapat leluasa men-cekok-i ideologi mereka yang penuh dengan kebohongan dan kepentingan berbahaya dari kalangan kaum orientalis.

 

  1. Inti masalahnya, “penetrasi” JIL (Jaringan Islam Liberal) & Syiah cukup masif dan berpengaruh terhadap pola pikir hingga mempengaruhi “imamah” di tubuh NU. Sehingga warga Nahdliyin yang lurus tentu akan dijadikan musuh.

 

  1. Penggunaan istilah ISLAM NUSANTARA, terdapat banyak cela yang dapat dimasuki oleh kepentingan kaum Liberal. Beberapa fenomena akibat timbulnya Isnus adalah sebagai berikut:

“Karena ada Islam Nusantara, di sisi lain dimunculkan Islam Arab, tentu akan timbul nama-nama:

– Islam Nigeria

– Islam Jepang

– Islam Australia

– Islam Eropa

dan sebagainya, yang setiap istilah itu memiliki karakteristik berbeda satu dengan lainnya. Tentunya akan lebih memudahkan pihak musuh untuk mengacak-acak Islam.

 

  1. Dengan munculnya istilah ISLAM NUSANTARA maka akan timbul sikap fanatisme terhadap Islam Nusantara dan cenderung mem-perspektif-kan bahwa Islam Nusantara itu yang paling benar, paling baik. Selain Islam Nusantara, berarti salah atau kurang sempurna.

 

  1. Islam Nusantara, ini masalah yang muncul ketika indigenisasi diterapkan pada ekspresi keagamaan. Reifikasi (pembendaan) pribumisasi Islam seperti ini, yang diusulkan Gus Dur dilanjutkan Ahmad Baso, dan sekarang oleh Ahmad Sahal, Rumail Abbas lalu digaungkan oleh Presiden.

 

  1. Munculnya Isnus menjadi identik dengan Islam anti Arab. Jika keantian mereka terhadap ke – Arab-Araban tembus dalam hati sehingga ada unsur istihza’ (merendahkan) terhadap sunnah Nabi, kemungkinan besar mereka bisa terpesorok ke jurang kemurtadan. Apalagi bila kontra dengan syariat.

 

  1. Bisa jadi Islam Nusantara adalah labelisasi baru setelah Islam Liberal gagal didengungkan. Di mana Islam Liberal mengadopsi pemikiran kaum orientalis yang lebih ditekankan pada dunia kampus. Kegagalan Islam Liberal yang dulu ada di dunia kampus Umum dan Islam, kini strategi yang lama diterapkan di tubuh NU dengan mendengungkan istilah Islam Nusantara.

 

  1. Salah satu fenomena dampak negatif dari munculnya jargon Islam Nusantara adalah beberapa orang mulai minder memelihara jenggot, mengenakan jubah/gamis, mengenakan cadar dan simbul Islam lainnya. Ketika ada ulama/asatidz memberikan fatwa yang lurus dan yang sebenarnya tentang hukum agama namun tidak sesuai dengan selera penggiat Isnus, malah di cap sebagai radikal. Padahal apa yang disampaikan sesuai dengan syariat, pendapat ulama salaf dan tuntunan Baginda Nabi Muhammad SAW.

 

  1. Tidak dipungkiri, istilah Islam Nusantara dimunculkan sebagai bentuk reaksi terhadap kelompok Radikal Wahabi. Yang menjadikan Jenggot sebagai hal dhahiriyyah minaddin. Sedangkan menurut faham Asya’irah, jenggot adalah sunnah Nabi. Bukan kewajiban syariat. Tapi meniru sunnah itu berpahala jika niat mengikuti Nabi. Atau Jenggot bisa dikatakan sebagai adat Nabi, bukan perintah syariat. Tapi tetap sunnah memelihara jenggot, yang dalam istilah usul fiqih termasuk جبلية محض

 

  1. Istilah Islam Nusantara mempersempit pemahaman tentang Islam yang mengatur semua aspek kehidupan, karena Islam Nusantara lebih cenderung kepada peradaban orang Indonesia yang toleran.

 

  1. Untuk membahas Isnus, maka yang utama adalah apa dan bagaimana Isnus itu sesuai dengan yang telah diviralkan oleh para pengusung dan penggiatnya. Maka dari situ dapat diambil kesimpulan demi kemashlahatan masyarakat, karena bagaimanapun masyarakat terlanjur memahami target ISNUS itu ya dari media mainstream yang mereka baca, bukan dari siapa asli pencetus utamanya dan apa tujuan pencetus istilah itu.

 

نحكم بالظاهر والله يتولى السرائر

(Kita menghukumi sesuatu itu dari perkara yang tampak, sedangkan urusan yang tersembunyi diserahkan kepada Allah).

 

Berikut ini contoh beberapa statemen, hasil produk Isnus yang banyak dibaca oleh masyarakat umum:

 

“Kalau kamu mau menjadi orang Islam, jangan jadi orang Arab.”

“Semua orang berpakaian seperti orang Arab, bendera dituliskan tulisan Arab, adat istiadat Arab, kenapa nggak pada pindah Arab saja ya?”

“Islam bukan Arab”

“Islam Indonesia bukan Islam Arab”

“Islam Nusantara lebih sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia, bukan Islam Arab”

“Konsep Islam Nusantara mensinergikan ajaran Islam dengan adat istiadat lokal yang banyak tersebar di wilayah Indonesia. Islam di Indonesia tidak harus seperti Islam di Arab atau Timur Tengah, yang menerapkan penggunaan gamis ataupun cadar.

Islam Nusantara adalah Islam yang khas ala Indonesia”.

“Islam Nusantara adalah Agama Sejati, Islam Arab adalah Agama abal-abal dan Penjajah”

“Islam Nusantara itu lebih baik daripada Islam Arab”

 

  1. Sasaran yang dituju oleh penggiat Islam nusantara adalah remaja. Dengan dalih mengangkat budaya Nusantara agar tidak hilang. Banyak remaja di medsos menggunakan tagar #Islamnusantara. Di sisi lain, banyak remaja muslim yang tidak paham apa itu liberalisme, pluralisme, dll. Dari jargon Islam Nusantara inilah paham liberal menggerus kalangan remaja.

 

  1. Sering kali ISNUS berdalih bahwa golongan merekalah yang meneruskan silsilah keIslaman Walisongo berdakwah dengan kasih sayang tanpa kekerasan dan angkat senjata. Padahal jika dicermati akan diketahui perbedaan di antara keduanya.

 

Di antaranya:

-Penisbatan agama “Nusantara” tidak pernah dibawa oleh para Walisongo

-Penyesuaiannya Walisongo dengan sebagian adat di Jawa, bukan berarti Walisongo benci Arab atau sama sekali tidak mengunggulkan Nusantara hingga melecehkan Arab.

(personalia para Walisongo itu berasal dari Arab).

– Walisongo menghapus adat istiadat yang bertentangan dengan ibadah/ syariat sedang Isnus menghapus Syariat yang kurang sesuai dengan adat.

 

Contoh yang didengungkan penggiat Isnus :

– Imamah tidak suka.

– Baju putih dalam shalat diganti dengan batik dengan alasan nilai shalat diambil dari kekhusyu’an bukan bukan baju (mereka lupa hadist kesunnahan pakaian warna putih).

– Lebih mengunggulkan adat di atas ibadah. Padahal dalam syariat, ibadah itu di atas adat.

– Tidak menerima ajaran yang dibawa oleh para habaib dzurriyah Nabi, dan para kyai muda yang notabene akhir-akhir ini  banyak yang berguru pada alim ulama di negeri-negeri Arab.

 

  1. Yang kita lawan adalah para pengusung SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme) yang berbaju Islam, yang sekarang memanfaatkan jargon Islam Nusantara, jadi tidak mungkin dirangkul jadi satu kesatuan dalam tubuh umat Islam. Kaum SEPILIS adalah reinkarnasi dari kaum Orientalis Barat yang sengaja mengacak-acak Islam dari dalam.

 

  1. Hakikatnya, merek & Isnus itu sendiri sudah bermasalah. Analognya, umat Islam ibarat disodori pilihan:

 

  1. Minyak babi cap BABI
  2. Minyak babi cap SAPI
  3. Minyak sapi cap BABI
  4. MINYAK SAPI cap SAPI ?

 

Seharusnya, umat Islam mencari yang paling aman, yaitu memilih MINYAK SAPI CAP SAPI. Sedangkan di antara para penggiat Isnus itu ada dua kalangan, yaitu ibarat mengarahkan umat Islam untuk memilih:

 

-Minyak sapi cap BABI

-Minyak babi cap BABI.

 

Akibatnya umat Islam menjadi ragu-ragu terhadap pilihannya.

 

  1. Islam Nusantara tidak lain merupakan manhaj dhirar yang teori “ramah lingkungan”-nya hanya pemanis kemasan semata, di mana muatan penerapan & tujuan yang hendak diraihnya adalah demi menyingkirkan supremasi Syariat & merontokkan sendi-sendi agama dari kehidupan umatnya dengan jargon hubbul wathan yang dilucuti dari koridor Syar’i yang memangkunya. [ ]

3

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

890

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *