Hubungan Suami Istri Dalam Islam, Apakah Istri Boleh Ejakulasi

Assalamu’alaykum. Pak ustadz maaf sebelumnya jika pertanyaannya agak kurang sopan. Saya sudah setahun menikah dan belum dikaruniai anak. Dalam hubungan suami istri juga normal-normal saja. Hanya selama berhubungan suami istri, saya kurang merasakan kepuasan. Kadang suami selesai ejakulasi terus tidur. Apakah dalam Islam seorang wanita atau istri boleh ejakulasi dan berhak menuntut kepuasan hubungan suami istri? Berapa lama waktu ideal hubungan intim. Mohon penjelasannya dan terima kasih. ( Tanti via email )

 

Wa’alaykusalam ww. Bapak ibu dan sahabat-sahabat yang dirahmati Allah. Islam adalah agama yang sangat sempurna yang mengatur hidup dan kehidupan manusia dari yang besar hingga yang kecil termasuk dalam hubungan suami istri.

 

 

Dalam hubungan intim maka suami istri harus dan wajib memberikan kepuasan kepada pasangannya. Suami dan istri mempunyai hak yang sama dalam hal ini. Bukan hanya suami saja melainkan juga istri harus dapat kepuasan dalam hubungan intim tersebut. Dalam Alquran ditegaskan,

 

 

Sang istri memiliki hak (yang harus dipenuhi suami) sebagaimana kewajiban yg dia yang harus dia penuhi untuk suaminya, dengan baik (dalam batas wajar).” (Q.S. Al-Baqarah: 228)

 

 

Sebagaimana suami menginginkan mendapatkan kepuasan ketika melakukan hubungan badan dengan istrinya, demikian pula istri. Dia memiliki hak untuk mendapatkan kepuasan yang sama sebagaimana suaminya. Oleh karena itu, masing-masing memiliki hak dan kewajiban yang seimbang. Batasannya adalah bil ma’ruf (dalam batas wajar). Dan batasan ini dikembalikan menurut anggapan umumnya masyarakat.

 

 

Sikap sebagian pasangan yang hanya mementingkan diri sendiri, baik dalam pergaulan pada umumnya maupun ketika di atas ranjang, termasuk bentuk pelanggaran hak sesama. Itu artinya, sikap seacam ini termasuk pelanggaran terhadap  perintah sebagaimana pada ayat di atas.

 

 

Dalam sebuah hadits Rasul Saw memerintahkan kepada suamu untuk memenuhi hak istri ketika sedang berjima’ atau berhubungan intin. Bahkan seoarng suami tidak boleh meninggalkan istrinya yang belum merasakan kepuasan,

 

Jika seseorang di antara kamu berhubungan dengan istrinya, hendaklah ia lakukan dengan penuh kesungguhan. Jika ia menyelesaikan kebutuhannya sebelum istrinya mendapatkan kepuasan, maka janganlah ia buru-buru mencabut kemaluannya hingga istrinya mendapatkan kepuasannya juga.” (HR. Abdur Razaq dan Abu Ya’la, dari Anas)

 

 

Menurut para ulama hadits menyebutkan bahwa maksud hadits ini adalah suami dilarangan mencabut kemaluannya dari kemaluan istri sebelum istrinya puas. Biasanya seorang suami akan mengalami ejakulasi atau orgasme yakni ditandai dengan keluarnya sperma saat berhubungan intim, maka suami tida boleh langsung mencabut kemaluannya tersebut.

 

Beberapa pendapat dari Abu Hanifah, Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa suami memiliki kewajiban untuk menggauli istrinya semaksimal mungkin dan berdasarkan kecukupan sang istri dan kesanggupan suami.

 

 

Sementara Ibnu Qayyim Al Jauziyah berpendapat bahwa setiap suami harus memuaskan hasrat sang istri ketika berhubungan badan. Bahkan beliau mengungkapkan agar para suami bisa memuaskan istrinya layaknya ia puas dalam hal makan.

 

 

Wajib bagi suami untuk melakukan hubungan dengan istrinya dalam batas “bil ma’ruf” (dalam batas wajar), sebagaimana dia diwajibkan untuk memberi nafkah, memberi pakaian, dan bergaul dengan istrinya dalam batas sewajarnya. Inilah inti dari pergaulan dan tujuan kehidupan rumah tangga. Allah memerintahkan para suami agar bergaul dengan mereka dalam batas wajar. Dan hubungan badan jelas termasuk  dalam hal ini. Mereka mengatakan, ‘Suami harus memuaskan istrinya dalam hubungan badan, jika memungkinkan, sebagaimana dia wajib memuaskannya dalam memberi makan. Para guru kami –rahimahumullah– menguatkan dan memilih pendapat ini.’” (Raudhatul Muhibbin, hal. 217)

 

 

Terkait dengan lamanya hubungan intim, dalam Islam tidak diatur. Demikian juga dalam ilmu kesehatan tidak ada aturan baku berapa lama hubungan suami istri bisa saling memuaskan. Hal ini tergantung dari kesepakatan suami istri. Ada suami istri yang cukup puas berhubungan intim selama 30 menit. Namun ada juga yang sanggup berhubungan intim hingga 1 jam atau lebih. Intinya adalah suami istri merasa puas dalam hubungan intim, bukan masalah waktu atau lamanya.

 

 

Kemudian apakah istri juga berhak atau mengalami ejakulasi ?

 

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita juga mengalami ejakulasi, yaitu mengeluarkan cairan pada saat orgasme. Cairan itu dikeluarkan melalui saluran kencing (uretra) yang dihasilkan oleh suatu kelenjar yang berada di sekitar saluran kencing (glandula paraurethral). Sebuah penelitian menemukan bahwa para wanita menghasilkan cairan selama sanggama sampai saat orgasme, dari beberapa tetes hingga mencapai dua gelas.

 

Dalam suatu riwayat, Rasulullah menjelaskan bahwa wanita juga mengalami ejakulasi. Perhatikan hadits berikut ini.

 

Dari Umi Salamah r.a. (istri Nabi) katanya, Ummu Sulaim datang kepada Rasulullah dan bertanya, “Ya. Rasulullah! Sesungguhnya Allah tidak malu mengatakan yang benar (al-Haq). Wajibkah perempuan mandi kalau dia bermimpi?” Jawab Rasulullah, “Apabila dia melihat air (keluar mani).” Ummu Salamah menutup mukanya karena malu dan berkata, “Ya. Rasulullah! Apakah perempuan juga keluar mani?” Jawab Rasulullah, “Ya, betul! Taribat yaminuk. Kalau tidak kenapa anaknya serupa dengannya?”

 

 

Cairan ejakulasi dikeluarkan melalui saluran kencing. Hal tersebut sering menyebabkan kebingungan, apakah itu air kencing (urine) ataukah ejakulasi. Untuk dapat mengetahuinya, sebelum melakukan perangsangan pada klitoris dan G-spot atau melakukan hubungan seksual, wanita perlu  mengosongkan kandung kencing terlebih dahulu.

 

 

Saat semakin terangsang dan kemudian timbul perasaan ingin kencing, jangan ditahan, lepaskan saja (sangat membantu apabila saat pengeluaran diikuti jeritan kecil, seperti “yaah” atau “aaaah“) kemudian rileks dan bernapas dalam karena itulah ejakulasi.

 

 

BACA JUGA: Berapa Kali Hubungan Suami Istri Menurut Islam ?

 

 

Memang hubungan suami istri atau hubungan intim bukan tujuan kita menikah atau berumah tangga. Namun ketidakpuasan dalam hubungan suami istri ini bisa memicu ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Banyak kasus suami atau istri yang selingkuh karena masalah hubungan intim dengan pasangannya yang tidak memuaskan.

 

 

Untuk itulah Islam mengajarkan agar suami istri bisa saling memahami hak dan kewajiban masing-masing termasuk dalam hubungan intim tersebut. Bicarakan baik-baik dengan pasangan atau suami Anda. Jika perlu ajak konsultasi kepada ahlinya misalnya dokter jika ada kelainan atau ustadz. Jangan biarkan berlarut dan suami mendzalimi istrinya. Semoga bermanfaat. [ ]

3

Sumber: dari buku “Cinta & Seks Rumah Tangga Muslim” dan Tanya Jawab Ustadz Online bersama Ust Aam Amiruddin 

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

870

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *