Memaknai Momen Hijrah

 

 

JAKARTA, BIO.COM – – Umat Muslim di seluruh dunia akan segera memasuki tahun baru Islam 1440 Hijrah. Di Tanah Air, ghirah keislaman menyambut pergantian tahun baru Islam belakangan semakin meningkat. Sejumlah kegiatan seremonial seperti pawai dan tablig akbar biasa diadakan. Ada harapan dan keinginan dari segenap umat bahwa pergantian tahun baru Hijrah ini dapat memberikan kehidupan yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

 

Namun demikian, yang sangat penting bagi kita adalah memetik makna sesungguhnya dari peristiwa hijrah Nabi saw. dan para sahabat kala itu, dari Makkah ke Madinah, yang terjadi 14 abad silam.

 

  1. Hijrah Bâthinah

 

Hijrah secara bahasa berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu keadaan ke keadaan lain (Lisân al-Arab, V/250; Al-Qâmûs al-Muhith, I/637). Menurut Rawas Qalah Ji dalam Mujam Lughah al-Fuqahâ, secara tradisi, hijrah bermakna: keluar atau berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain untuk menetap di situ.

 

Belakangan, kata hijrah di Tanah Air menjadi popular. Kata ini disematkan untuk perubahan pribadi dari kondisi kemaksiatan menuju kondisi islami. Pribadi Muslim yang ugal-ugalan, tidak peduli halal dan haram, menjadi individu yang dekat dengan Allah SWT. Dari bisnis yang berlumur riba menuju muamalah yang halal. Dari Muslimah yang belum menutup aurat menjadi sosok yang tak lepas dari jilbab. Masyarakat sering menamakan hal tersebut sebagai fenomena hijrah.

 

Dengan mengutip penjelasan sejumlah ulama, pengertian hijrah seperti di atas ada benarnya. Ibnu Hajar al-Asqalani di dalam kitab Fath al-Bâri bi Syarh Shahîh al-Bukhârî, juga al-Alqami yang dikutip di dalam Awn al-Mabûd, menjelaskan bahwa hijrah itu ada dua macam: zhâhirah (lahir) dan bâthinah (batin). Hijrah batin adalah meninggalkan apa saja yang diperintahkan oleh hawa nafsu yang selalu memerintahkan keburukan (nafsu al-ammârah bi as-sû) dan seruan setan.

 

Seorang Muslim yang bertobat kepada Allah SWT, bersungguh-sungguh menaati segala aturan-Nya dan meninggalkan kemaksiatan pribadi bisa disebut tengah melakukan hijrah. Hal ini sebagaimana penjelasan Nabi saw. saat beliau ditanya,  “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang berhijrah  (muhâjir) itu?” Beliau menjawab:

 

مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Dialah orang yang meninggalkan perkara yang telah Allah larang atas dirinya” (HR Ahmad).

 

Hijrah batin ini, yakni meninggalkan kemaksiatan menuju ketaatan, adalah perkara yang wajib bagi setiap Muslim. Siapa saja yang mengharapkan ridha Allah SWT sudah seharusnya meninggalkan kemungkaran menuju penghambaan kepada-Nya. Meninggalkan muamalah ribawi, budaya suap-menyuap, menipu, berbisnis barang yang haram semisal minuman keras, membuka aurat, membela LGBT, berbuat zalim terhadap sesama Muslim, mempersekusi dakwah, dll. Lalu beralih pada perilaku islami. Giat beribadah, mencari rezeki yang halal, menutup aurat, beramar makruf nahi mungkar, dsb. Allah SWT berfirman:

 

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Bersegeralah kalian menuju ampunan Tuhan kalian dan surga seluas langit dan bumi yang disiapkan bagi orang-orang yang bertakwa” (QS Ali Imran [3]: 133).

 

  1. Hijrah Zhâhirah

 

Adapun hijrah zhâhirah (batin) yang diterangkan oleh Ibnu Hajar adalah lari menyelamatkan agama dari fitnah (al-firâr bi ad-dîn min al-fitan). Hal ini senada dengan penjelasan al-Jurjani dalam At-Tarifât. Menurut al-Jurjani, hijrah adalah meninggalkan negeri yang berada di tengah kaum kafir dan berpindah ke Dâr al-Islâm.

 

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bârî Syarhu Shahîh al-Bukhârî menjelaskan, asal dari hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan kebaikan. Hijrah secara mutlak dalam as-Sunnah ditransformasikan ke makna: meninggalkan negeri syirik (kufur) menuju Dâr al-Islâm. Jika demikian maka asal hijrah adalah meninggalkan apa saja yang telah Allah larang berupa kemaksiatan, termasuk di dalamnya meninggalkan negeri syirik, untuk tinggal di Dâr al-Islâm.

 

Darul Islam adalah suatu wilayah (negara) yang menerapkan syariah Islam secara total dalam segala aspek kehidupan dan keamanannya secara penuh berada di tangan kaum Muslim. Sebaliknya, darul kufur adalah wilayah (negara) yang tidak menerapkan syariah Islam dan keamanannya tidak di tangan kaum Muslim, sekalipun mayoritas penduduknya beragama Islam. Definisi hijrah semacam ini diambil dari fakta hijrah Nabi saw. sendiri dari Makkah (yang saat itu merupakan darul kufur) ke Madinah (yang kemudian menjadi Darul Islam).

 

Hijrah lahir inilah yang menjadi peristiwa besar dalam sejarah umat. Pada saat Nabi saw. dan para sahabat berhijrah ke Madinah, Islam dapat ditegakkan secara kâffah, bahkan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Hukum-hukum Islam baru dapat dilaksanakan dengan paripurna setelah hijrah Nabi saw. dan kaum Muslim; mulai dari hukum ibadah, sosial, ekonomi hingga pemerintahan.

 

 

BACA JUGA: Hukum Merayakan Tahun Baru Islam

 

 

Madinah menjadi pusat pemerintahan kaum Muslim yang pertama. Di sana Rasulullah saw. dan selanjutnya Khulafa ar-Rasyidin mengatur urusan umat Muslim baik untuk urusan dalam maupun luar negeri. Nabi saw. mengirim delegasi ke sejumlah negeri seperti ke Mesir, Persia dan Romawi untuk mengajak mereka memeluk agama Islam dan tunduk pada kekuasaan beliau. Beliau juga mengirim pasukan ke berbagai medan peperangan, baik yang dipimpin langsung oleh beliau maupun diserahkan pada para sahabat.

 

Berdasarkan riwayat Ibnu Hajar al-Asqalani, jumlah peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah saw. (ghazwah) mencapai 29 kali, sedangkan Ibnu Hisyam dalam kitab Sirahnya menyebutkan 27 kali. Pada masa Khulafa ar-Rasyidin luas kekuasaan kaum Muslim empat kali lebih luas dibandingkan Prancis dan Jerman, meliputi Jazirah Arab, Persia hingga wilayah Syam dan Palestina serta sebagian Afrika. Wallahu’alam bishshawab . [ ]

 

Sumber: Buletin Kaffah_No. 055_26 Dzulhijjah 1439 H

3

 

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

832

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *