Pilpres 2019, Jokowi dan Prabowo Berebut Pengaruh Gus Dur

 

JAKARTA, BIO.COM – – Pilpres 2019,semakin ramai, pasalnya Capres Jokowi,Capres Prabowo, berebut pengaruh keluarga almarhum Gus Dur. Keluarga presiden keempat Abdurrahman Wahid masih memiliki magnet kuat pada pilpres 2019. Hal itu terbukti dengan berkunjungannya dua pasangan calon presiden, Joko Widodo-Kiai Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ke rumah almarhum Gus Dur di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kedatangan kedua pasangan diyakini selain untuk bersilaturahim juga demi meraih dukungan keluarga Gus Dur yang punya pengaruh kuat di NU.

 

Bakal calon wakil presiden (cawapres) Sandiaga Uno berkata kedatangannya ke rumah Gus Dur sekadar silaturahim kepada keluarga tokoh nasional sekaliber Gus Dur. Namun, Sandiaga mengakui menawarkan kepada Yenny bergabung ke tim Prabowo-Sandi. Ia pun menyerahkan kepada pimpinan partai koalisi terkait posisi untuk Yenny di tim pemenangan.

 

“Kami intinya ingin memberikan ruang, ingin memberikan kesempatan apa pun keputusan Mbak Yenny mau ikut kami, atau mau netral atau mau ikut dari kubu Presiden Jokowi dan Kiai Ma’ruf, dan tentunya itu keputusan beliau. Saya dan Pak Prabowo akan menghormati keputusan tersebut dengan tulus hati,” kata Sandi usai mengunjungi kediaman Gus Dur, di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Senin (10/9/).

 

Menurut Sandi, Yenny sebagai bagian dari keluarga Gus Dur, merupakan salah satu pencetak pejuang keberagaman dan toleransi. Karena itu, ia melanjutkan, posisi Yenny saat ini lebih diperlukan sebagai orang yang merawat keberagaman.

 

Sandiaga menegaskan, saat ini, tokoh-tokoh bangsa memiliki tugas kita ada tugas yang lebih penting. Tugas itu tak lain adalah menjaga Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2019 berjalan sejuk, teduh, damai, dan rukun.

 

“Saya tidak ingin saling tarik-tarikan kayak transfer, kata Pak Prabowo. Jangan seperti transfer pemain sepak bola, saling panas-panasan terus tarik menarik,” ujar dia.

Meski diajak bergabung, keluarga Gus Dur belum menentukan pilihan kepada siapa memberikan dukungan. Yenny tidak menolak atau menerima pinangan Sandiaga. “Ini Pak Sandi tadi (mengajak). Tadi kan sowan-sowan saja, tapi beliau minta saya masuk ke tim pemenangan,” kata dia.

 

Ia mengungkapkan, tawaran serupa juga datang dari kubu pasangan Jokowi-Kiai Ma’ruf. Saat ini, Yenny masih menimbang pilihan yang ada. “Pak Jokowi kan sudah hari Jumat, Pak Sandiaga hari ini, besok Pak Prabowo. Tapi nantilah, kalau orang NU itu diselesaikan semuanya melalui shalat istikharah,” kata Yenny.

 

Selain itu, Yenny juga masih perlu meminta izin kepada ibundanya, Sinta Nuriyah. Pasalnya, selama ini sosok ibunya selalu berada di posisi tengah atau tidak mendukung siapa-siapa.

 

“Jangan-jangan nggak dikasih izin mendukung keduanya. Kita kan nggak tahu juga. Sebisa mungkin, saya berharap izin turun dari ibunda saya jadi kita bisa leluasa menetapkan pilihan,” kata dia. Perempuan bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid itu menghormati segala proses komunikasi yang terjalin.

 

Meski belum menentukan pilihan, Yenny berharap kedua tim sukses pasangan calon tidak menggunakan isu SARA dalam kampanyenya. Ia menegaskan, Sandiaga juga berkomitmen tak akan menggunakan isu SARA untuk mendulang suara dalam Pilpres 2019.

 

Putri kedua almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu mengatakan, barisan kader Gus Dur akan menggelar Silaturahim Nasional setelah mengetahui visi dan misi pasangan capres-cawapres. Silaturahim itu untuk menentukan sikap kepada siapa dukungan akan diberikan.

 

“Di NU (Nahdlatul Ulama) itu sudah pasti ada beberapa mekanisme sebelum kita membuat keputusan. Kita dengarkan dulu seperti apa visi-misi dari para calon,” kata Yenny.

Masa kampanye akan dimulai pada 23 September 2018. Saat itu, pasangan Jokowi-Kiai Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga akan menyampaikan visi dan misi lima tahun ke depan kepada publik. Yenny tak menampik sebagian masyarakat NU ada yang mendukung Prabowo-Sandi dan sebagian lagi mendukung pejawat.

 

Yenny mengatakan dia tak sendirian karena lapisan kader NU, khususnya Gusdurian, sangat banyak. Karena itu, usai mendengarkan visi dan misi pasangan, pihaknya segera menggelar silaturahim nasional. Forum tersebut ditujukan untuk mendengarkan aspirasi dan pendapat dari para kader NU, termasuk Gusdurian.

 

“Lalu, keputusan akan kita keluarkan setelah pertemuan itu. Pertemuannya setelah tanggal 23 September,” ujarnya menjelaskan.

 

Visi dan misi merupakan janji dari calon pemimpin yang harus ditunaikan ketika terpilih. Hal itu menjadi pokok penting yang perlu didengar NU dan Gusdurian. Khusus Prabowo, kata Yenny, telah menyatakan dan meyakinkan keluarga Gus Dur untuk  menjaga demokrasi berjalan dengan secara sehat.

 

Selain itu, kata Yenny, Prabowo menyatakan Islam patut menjadi inspirasi, tetapi tidak mesti dijalankan menjadi sebuah hukum di negara Indonesia. Meski demikian, bukan berarti komitmen Prabowo tersebut menjadi dasar bahwa Gusdurian akan mendukung sepenuhnya.

 

“Kita telaah lagi, dari situ mungkin insya Allah akan ditentukan,” kata Yenny.

 

Sebelum Prabowo dan Sandiaga, Jokowi sudah lebih dulu menyambangi rumah Gus Dur. Jokowi datang pada Jumat (7/9). Dalam kunjungan ini, Jokowi mengaku meminta restu kepada Sinta Nuriyah Wahid terkait pencalonan dirinya di Pilpres 2018. “Tadi saya mohon doa restu dari Ibu Sinta Nuriyah,” kata Jokowi saat melakukan konferensi pers didampingi Sinta Nuriyah Wahid dan Yenny Wahid.

 

Selain itu, kunjungan Jokowi ini juga dalam rangka memperingati hari lahir almarhum Abdurrahman Wahid yang jatuh pada 7 September 1940. Menurutnya, kunjungannya ke kediaman Gus Dur ini bukanlah yang pertama kalinya, tetapi terhitung sudah keempat kali.

 

“Jadi hari ini saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk almarhum Gus Dur yang ke-78. Sehingga tadi di dalam makan bubur merah putih,” tambahnya.

 

Lebih lanjut, Jokowi juga mengaku ingin memastikan kesehatan Sinta. “Juga ingin mengabarkan mengenai kesehatan beliau, saya kira beliau alhamdulillah diberikan kesehatan yang baik oleh Allah dan itu saja,” ujarnya.

 

Kedatangan Jokowi ke rumah Gus Dur disambut Sinta. Sinta pun mengaku akan memberikan dukungan dan doanya kepada Jokowi.

 

“Jadi saya sebagai orang tua pasti akan memberikan doa, mendoakan, dan memberikan dukungan. Apalagi kalau kita harapkan bahwa yang akan jadi pemimpin nanti adalah pemimpin-pemimpin yang amanah, yang bisa mengamalkan apa yang diamalkan Gus Dur dulu,” kata Sinta Nuriyah saat konferensi pers bersama Jokowi di kediamannya.

 

Sinta mengatakan, kunjungan Jokowi ini untuk bersilaturahim dengan tokoh-tokoh masyarakat dan para kiai. Jokowi, kata dia, merupakan figur yang selalu menjaga silaturahmi dengan keluarga Gus Dur.

 

Sebab, kunjungannya ke rumah Gus Dur ini bukan yang pertama kalinya. Namun, terhitung sudah keempat kali.

 

“Pak Jokowi boleh dikatakan orang yang suka silaturahim. Silaturahim kepada tokoh-tokoh masyarakat, kiai, orang-orang berpengaruh dan sebagainya. Termasuk ke sini, karena saya dianggap sebagai orang tua yang patut dikunjungi,” kata Sinta Wahid.

Menurut Sinta, silaturahim pemimpin dengan para tokoh masyarakat dan ulama menunjukkan keberpihakan pemimpin kepada suara rakyat. Bukan hanya untuk kepentingan golongan ataupun pribadi.

 

“Artinya kebijakan seorang pemimpin harus berdasar pada kepentingan rakyatnya, bukan kepentingan golongan atau pribadi. Kalau pemimpin seperti ini, ini adalah pemimpin yang patut kita dukung. Aamiin,” kata Sinta. [ ]

Sumber: republika online

3

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

590

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *