Hukum Melihat Kemaluan Suami Istri Dalam Islam, Boleh atau Terlarang ?

 

JAKARTA, BIO.COM – –  Assalamu’alaikum. Ustadz apa hukum melihat kemaluan pasangan ( suami atau istri ) saat melakukan hubungan intim? Apakah boleh atau terlarang ? Mohon penjelasannya dan terima kasih. ( Robby via email)

 

Jawab:

 

Wa’alaikumsalam ww. Dalam perkara ini sebagian ulama berpendapat makruh melihat kemaluan suami atau istri dan sebagian lagi menganggap haram. Menurut Dr. Marwan Ibrahim al-Qaisiy, yang benar adalah tidak makruh dan tidak haram. Artinya, suami maupun istri boleh saja melihat farji masing-masing. Dalil-dalil yang menguatkan pernyataannya adalah sebagai berikut.

 

 

Diriwayatkan oleh Ashabus-Sunan kecuali Nasa’i dari Muawiyyah bin Haidah berkata, Aku berkata kepada Rasulullah Saw.,

 

 

Wahai Rasulullah, aurat kami mana saja yang boleh kami datangi dan mana yang tidak boleh  ?” Jawabnya, “Jagalah auratmu kecuali kepada istrimu atau budak perempuanmu.” Saya bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau antara sebagian kaum dengan sebagian lainnya yang sejenis?” Nabi berkata, “Jika kamu mampu, hendaklah jangan seseorang melihat aurat orang lain (sesama jenis).” Saya bertanya lagi, “Bagaimana kalau seseorang di antara kami sendirian saja?” Jawabnya, “Maka yang berhak untuk dia merasa malu atasnya adalah Allah Ta’ala.

 

 

Kemudian, terdapat riwayat dari Bukhari dan Muslim. Aisyah r.a. berkata, “Aku dan Rasulullah mandi dalam satu bejana (saling bergantian tangan kami memasukkan ke bejana mengambil air) lalu beliau menyuruhku bergegas sampai aku berkata tinggalkanlah aku.” Aisyah berkata, keduanya (dia dan suaminya) dalam keadaan junub.

 

 

Kasus ini menyangkut mandi junub bersama dalam satu ruang (kamar mandi) dan satu bejana. Adapun hadis yang dijadikan alasan pengharaman melihat farji adalah hadis-hadis tidak sah, antara lain:

 

 

Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwasanya dia berkata, “Aku tidak pernah sekali pun melihat aurat Rasulullah Saw.” (H.R. Thabrani dalam al-Mu’jamul Shagir hal. 27)

 

Syaikh Albani berpendapat bahwa dalam sanad hadits tersebut terdapat Barkah bin Muhammad al-Halabi, padahal di dalamnya tidak dijumpai nama Barkah. Maka sungguh dia telah berdusta dan mengada-ada. Ibnu Hajar berkata di dalam Al Lisan bahwa hadits itu termasuk hadits batil.

 

Hadits lain yang diriwayatkan Ibnu Majah (1/592). Dari Uqbah bin Abdul Salimy (hadits marfu), Rasulullah Saw. telah berkata, “Jika seseorang dari kamu mendatangi istrinya, hendaklah memakai tutup dan tidak telanjang bulat seperti telanjangnya dua ekor keledai.

 

Hadis ini dhaif karena di dalamnya terdapat sanad yang bernama al-Ashwash bin Hakim dan al-Bushairi beralasan dengan hal itu. al-‘Iraqi menguatkan pula di dalam Takhrijul Ihya’ (246) dan mendhaifkan sanadnya. Nasa’i berkata, “Hadis ini mungkar.” (Adabuz zafaf fil kitab was sunah, 109-110).

 

Hadis lainnya yang berbunyi, “Jika salah seorang dari kalian menjima’ istrinya atau jariyahnya, janganlah dia melihat farjinya, sebab yang demikian itu dapat menyebabkan kebutaan.” Hadis tersebut maudhu (Silsilah al-ahaditsus Dla’ifah, Syaikh al-Albani, 1/196).

 

Kita perhatikan pula hadis dhaif lainnya yang berbunyi, “Tidaklah Rasulullah Saw. mendatangi istri-istrinya kecuali mengenakan mukena dengan menutup kain di atas kepalanya dan aku (istri) tidak melihat Rasulullah dan dia pun tidak melihatku.” Hadits ini tidak sahih (Silsilah al-Ahaditsus Dla’ifah, Syaikh al-Albani 3/1135). Wallahu’alam [ ]

 

 

Sumber: Dr. Marwan Ibrahim al-Qaisiy

 

Disarikan dari buku “Cinta  & Seks Rumah Tangga Muslim” karangan dr.Untung Santosa dan Dr.Aam Amiruddin, M.Si

 

4

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

780

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *