Hukum Mani dan Madzi, Najis atau Tidak ?

 

 

BIO.COM, JAKARTA – – Assalamu’alaykum. Mau bertanya, apakah air mani atau sperma yang tumpah atau terkena sprei atau sarung usai berhubungan intim termasuk najis? Bagaimana jika sarung atau celana tersebut tidak sempat dibersihkan dan dipakai untuk shalat, apakah sah shalatnya? Mohon penjelasannya. ( Pur – Surabaya)

 

Wa’alaykumsalam. Terkait  dengan status air mani atau sperma ini  memang masih banyak yang belum mengerti mana benda yang najis mana yang suci. Sehingga masih banyak yang perlu dipelajari, termasuk perihal air mani.

 

Mani atau cairan semen atau sperma adalah cairan yang keluar ketika mimpi basah atau berhubungan suami istri. Biasanya air mani atau sperma ini keluar dari kemaluan laki-laki saat orgasme.  Ciri-ciri mani adalah warnanya keruh, memiliki bau yang khas, keluar dengan syahwat, keluar dengan memancar dan membuat lemas.

 

Sementara bedanya dengan madzi dan mani, madzi adalah cairan tipis dan putih, keluar tanpa syahwat, tanpa memancar, tidak membuat lemas dan keluar ketika pemanasan sebelum hubungan intim. Madzi itu najis, sedangkan mengenai status mani apakah najis ataukah suci terdapat perselisihan di kalangan ulama.

 

Pertama, pendapat bahwa mani itu najis

 

Dalil ulama yang menyatakan bahwa mani itu najis adalah riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mencuci bekas mani (pada pakaiannya) kemudian beliau keluar untuk melaksanakan shalat dengan pakaian tersebut. Aku pun melihat pada pakaian beliau bekas dari mani yang dicuci tadi.”[ HR. Muslim no. 289, dari Sulaiman bin Yasar]

 

Kedua,pendapat bahwa mani itu suci

 

Dalil yang mendukung pendapat kedua ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa ‘Aisyah pernah mengerik pakaian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkena mani. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

 

Ada seorang pria menemui ‘Aisyah dan di pagi hari ia telah mencuci pakaiannya (yang terkena mani). Kemudian ‘Aisyah mengatakan, “Cukup bagimu jika engkau melihat ada mani, engkau cuci bagian yang terkena mani. Jika engkau tidak melihatnya, maka percikilah daerah di sekitar bagian tersebut. Sungguh aku sendiri pernah mengerik mani dari pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau shalat dengan pakaian tersebut.”[HR. Muslim no. 288]

 

Penulis Kifayatul Akhyar, Taqiyuddin Abu Bakr Ad Dimaysqirahimahullah mengatakan, “Seandainya mani itu najis, maka tidak cukup hanya dikerik (dengan kuku) sebagaimana darah (haidh) dan lainnya.

 

Sedangkan riwayat yang menyatakan bahwa mani tersebut dibersihkan dengan dicuci, maka ini hanya menunjukkan anjuran dan pilihan dalam mensucikan mani tersebut. Inilah cara mengkompromikan dua dalil di atas. Dan menurut ulama Syafi’iyah, hal ini berlaku untuk mani yang ada pada pria maupun wanita, tidak ada beda antara keduanya.”

 

 

Demikianlah pendapat yang terkuat bahwa air mani itu suci dan bukanlah najis. Kita bisa hanya memercikkan air ke pakaian yang dirasa terkena air mani, kemudian bisa memakainya untuk shalat.

 

 

Namun tentu lebih baik atau afdholnya untuk kehati-hatian sebaiknya mengganti pakaian yang terkena mani. Jadi saran kami ketika Anda selesai berhubungan suami istri dan mungkin mani  atau sperma ada yang terkena baju maka sebaiknya baju tersebut tidak dipakai untuk shalat.

 

Hal ini semata-mata untuk kehati-hatian dan menjaga kesahan shalat dengan pakaian yang terkena mani. Demikian penjelasannya. Wallahu’alam. [  ]

 

Sumber: tanyasyariah.com

4

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

890

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *