Abdullah Quilliam Semaikan Ajaran Islam di Inggris

JAKARTA,BIO.COM — Bagi sebagian orang, Kota Liverpool mungkin hanya dikenal lewat grup band The Beatles dan klub sepak bolanya yang berjuluk The Reds. Tapi, tahukah Anda jika di kota ini juga pernah lahir sosok besar yang menebarkan ajaran Islam?

Dialah William Henry Quilliam. Ia merupakan sosok penting dalam perkembangan sejarah Islam di Inggris. Ia tercatat sebagai orang Inggris pertama yang menjadi mualaf pada abad ke-19. Ia juga pendiri masjid pertama dan Islamic Centre di negeri berjuluk The Black Country ini.

Quilliam lahir di Liverpool pada 10 April 1856. Ia berasal dari keluarga mapan. Ayahnya, Robert Quilliam adalah produsen arloji ternama. Seperti kebanyakan keluarga mapan di Inggris pada masa itu, Quilliam meniti kehidupannya sebagai pria terdidik. Ia pernah belajar di Liverpool Institute serta King William’s College di Isle of Man — sebuah tempat yang berlokasi di perairan Irlandia.

Saat remaja, ia tumbuh dan dibesarkan di lingkungan keluarga Kristen. Perkenalannya dengan Islam terjadi ketika usianya 17 tahun.  Jika kebanyakan generasi muda masa kini bangga dengan gaya Barat untuk menyambut datangnya usia 17 tahun, tidak demikian halnya dengan Quilliam.

Pada usia itu, Quilliam mulai menemukan jalan menuju Islam. Proses tersebut datang lewat sebuah penyakit yang ia derita. Untuk menyembuhkan penyakit tak dikenal itu ia menyambangi Maroko. Dari sana ia mengenali Islam dan akhirnya menjadi mualaf. Namanya pun berganti menjadi Abdullah Quilliam.

Memeluk Islam ternyata bukanlah aib bagi Quilliam. Saat kembali ke kampung kelahirannya, ia justru aktif menyemaikan Islam di Inggris Raya. Di kala usianya menanjak 22 tahun, ia mulai merintis karier sebagai ahli hukum. Pada 1878, namanya mulai dikenal sebagai pengacara.

Para kliennya terinspirasi melihat sosok Quilliam yang bersungguh-sungguh serta tak pernah menyimpan rasa takut. Dari sinilah kariernya berkilau. Tak lama kemudian, ia menikahi Hannah Johnstone.

Setelah menjadi pengacara sukses, batinnya justru merasa miskin, utamanya  terhadap nilai-nilai Islam. Ia pun merasa perlu untuk mempelajari Islam lebih dalam lagi. Maka, pada 1882, ia berkelana ke Prancis, lalu menyeberang  ke Aljazair dan Tunisia. Dari sanalah, pengetahuan dan pemahamannya tentang Islam kian mendalam.

Merasa cukup berpetualang, angin membawanya kembali ke kampung halamannya, Liverpool. Di sana, pada 1889, ia mendirikan Liverpool Muslim Institute di 8 Brougham Terrace, Jalan West Derby.  Lembaga ini dibuka tepat pada perayaan Natal. Tempat di mana lembaga ini bermarkas kemudian tercatat sebagai  masjid pertama di Inggris.

Sebuah literatur yang dilansir laman isle of man menyebut, bangunan  di Jalan West Derby itu adalah Masjid Muhammad (Mahomedan Mosque). Kala itu, tempat ini mampu menampung ratusan Muslim yang ingin beribadah. Dari sanalah, Islam mulai bersemi untuk selanjutnya berkembang ke seluruh daratan Inggris.

Tak hanya mendirikan masjid, Quilliam juga membangun lembaga pendidikan. Ia kemudian menunjuk Hashim Wilde dan Nasrullah Warren sebagai kepalanya. Di lembaga pendidikan ini disediakan kursus bagi  Muslim maupun non-Muslim. Di tempat ini pula, setiap pekan digelar  pertemuan bertajuk Debating and Literary Society. Bahasannya bermuara pada sastra dan Islam.

Kegiatan itu ternyata diminati pula oleh kalangan non-Muslim di Inggris. Nah, hal itu tak disia-siakan oleh Quilliam untuk mengenalkan Islam kepada mereka. Usahanya dalam berdakwah Islam juga ditujukan kepada  keluarganya sendiri. Harriet Burrows, sang ibu, dan putra-putranya, ia ajak untuk masuk Islam. Laman wikipedia mencatat, saat itu Quilliam berhasil merangkul 150 orang Inggris menjadi mualaf.

Pada 1891, ia bersama putranya mengunjungi Konstantinopel (kini Istanbul) atas undangan Sultan Turki Utsmani. Rupanya, upaya dakwah Quilliam mendapat dukungan kuat dari sultan yang berkuasa di Turki kala itu.

Jalan dakwahnya terus berlanjut. Ia berdakwah melalui cara-cara intelektual. Patut dicatat, ia cukup produktif dalam menulis.  Ia juga membuat terbitan berkala yang hadir setiap pekan, yakni The Crescent. Aktivitas ini dijalankannya dari 1893 sampai 1908. Harian the Independent menulis, Quilliam memanfaatkan ruang bawah tanah masjid sebagai tempat untuk mencetak karya-karya tulisnya.

Selama rentang waktu tersebut ia berhasil menerbitkan tiga edisi buku The Faith of Islam. Karya ini diterjemahkan ke dalam 13 bahasa. Tulisan tersebut melambungkan namanya hingga ke negara-negara Islam.

Quilliam pun menjadi sering melakukan kunjungan ke luar Inggris. Sejumlah pemimpin dunia Islam memberikan penghargaan kepadanya. Ia menjalin hubungan dengan Muslim di Afrika Barat. Ia juga sempat menyambangi Lagos untuk menghadiri berdirinya Masjid Shitta Bey pada 1894.

Pada tahun yang sama, Sultan Turki Utsmani Abdul Hamid II mengangkat Qulliam sebagai pemimpin Islam di kepulauan Inggris. Ia pun mendapat mandat sebagai wakil konsul Negeri Persia bagi Liverpool.

Apresiasi dari jerih payahnya menyebarkan Islam di Inggris juga mendapatkan apresiasi dari pemimpin Afghanistan. Sejumlah dana mengalir kepadanya. Namun, aliran dana itu tidak dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Dana tersebut  digunakan untuk membantu Islamic Institute di Liverpool.

Di kala pamornya melambung sebagai pengacara, Qulliam memutuskan untuk menanggalkan semua itu.  Ia menghentikan pekerjaannya dan meninggalkan Inggris pada 1908. Sebelum pergi, ia menyerahkan masjid dan Islamic Centre kepada komunitas Muslim Liverpool.

Pada Desember 1914, Quilliam kembali ke Inggris. Ia kembali dengan nama baru, HM Leon. Konon, HM merupakan singkatan dari Haroun Mustapha. Kiprah penyemai nilai-nilai Islam di Inggris ini berakhir pada 1932. Ia wafat di London dan dimakamkan di pemakaman Brookwood.

Quilliam dalam ”Great British Islam”

Kisah perjalanan Abdullah Quilliam menemukan hidayah Islam, juga perjuangannya menyebarkan Islam di Inggris, telah menginspirasi banyak orang. Tak berlebihan, jika kisah sosok ini diangkat ke sebuah tayangan dokumenter. Judulnya adalah ”Great British Islam”.

Pada Ramadhan lalu, tayangan berdurasi dua jam dalam dua seri ini menghiasi layar televisi BBC London. Pengamat masalah sosial dan kandidat doktor dari Essex University,  Hakimul Ikhwan, mengatakan, tayangan itu tak hanya menambah pengetahuan mengenai sejarah masuknya Islam di Inggris.

”Tapi, juga menggugah perasaan sebagai Muslim untuk mensyukuri dan respek terhadap komitmen Inggris pada prinsip demokrasi, terutama dalam pengertian menjamin kebebasan berekspresi dan berkeyakinan,” ujar Hakimul, dosen sosiologi Fisipol UGM Yogyakarta, kepada Antara London.

Sebelum ini, tak pernah terbayangkan bahwa tayangan seperti itu bisa hadir di stasiun televisi Inggris sekelas BBC. Menurut dia, “Great British Islam” sangat menginspirasi dan memuat banyak hal yang menarik.  Ia mengatakan, tayangan ini sekaligus membantah tesis atau pandangan para orientalis bahwa Islam berkembang melalui pedang (peperangan).

Sebaliknya, seperti yang terjadi di Inggris dan juga  di Indonesia, Islam sukses berkembang melalui kemampuan “membumikan” nilai dan ajaran Islam sesuai dengan konteks dan kebutuhan masyarakat lokal.

Sumber:Republika.co.id

4

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

444

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *