Pegang Kemaluan dan Keluar Madzi Batal Wudhu, Benarkah ?

 

JAKARTA,BIO.COM – – Pegang kemaluan anak batal wudhu,pegang kemaluan batal wudhu,pegang kemaluan istri batal puasa,pegang kemaluan batal puasa, keluar madzi saat tidur,keluar madzi membatalkan puasa,keluar madzi ketika shalat, keluar mani,keluar sperma, apakah membatalkan wudhu ?

 

 

Tanya:

 

Assalamu’alaykum. Pak ustadz, kalau dipegang kemaluannya terus keluar madzi/ air mani itu batal wudhunya? Mohon penjelasannya. ( MM )

 

 

Jawab:

 

Wa’alaykumsalam ww. Madzi adalah cairan berwarna bening yang keluar dari kemaluan pria ataupun wanita ketika ada dorongan syahwat. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Aku adalah laki-laki yang sering keluar madzi, maka aku menyuruh Miqdad bin Aswad untuk menanyakannya kepada Rasulullah. Kemudian, Miqdad menanyakannya, maka jawab Rasulullah, hendaklah dia berwudhu” (H.R. Bukhari).

 

Keterangan itu menegaskan bahwa keluar madzi menyebabkan batalnya wudhu karena Rasulullah Saw. memerintahkan Ali untuk berwudhu. Hal itu dikuatkan lagi oleh keterangan berikut. “Apabila keluar mani, wajib mandi. Keluar madzi atau wadzi, maka Nabi Saw. pernah bersabda,

 

Cucilah kemaluanmu dan berwudhulah!’” (H.R. Baihaqi dari Ibn Abbas r.a.)

 

Di samping ketiga hal yang telah disepakati para ahli yang bisa membatalkan wudhu, ada pula beberapa hal lain yang diperselisihkan. Artinya, sebagian memandang membatalkan, sedangkan sebagian yang lain memandangnya tidak membatalkan wudhu. Berikut adalah beberapa hal yang dimaksud:

 

  1. Menyentuh kemaluan

 

Pendapat pertama, menyentuh kemaluan membatalkan wudhu. Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Barang siapa yang menyentuh kemaluannya, tidak boleh shalat sebelum berwudhu lagi” (H.R. al-Khamsah, hadisnya dinilai sahih oleh Tirmidzi).

 

Pendapat kedua, menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu. Alasannya dijelaskan dalam riwayat berikut. “‘Ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Saw. tentang hukum menyentuh kemaluan, apakah perlu wudhu?’ Nabi Saw. menjawab, ‘Tidak perlu karena dia merupakan bagian dari anggota badanmu!’” (H.R. al-Khamsah, hadisnya dinilai sahih oleh Ibn Hibban)

 

Menelaah perbedaan pendapat tersebut, yang masing-masing memiliki alasan kuat, kita mengggunakan metode thariqatul jam‘i, yaitu kedua keterangan hadis tersebut bisa dipakai atau diterima. Dengan demikian, menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu, tetapi lebih afdal kalau berwudhu lagi.

 

2. Bersentuhan dengan Lawan Jenis

 

Keterangan mengenai bersentuhan kulit laki-laki dengan perempuan terdapat dalam Surah Al-Maa’idah (5) ayat 6 yang berbunyi, “Jika kamu sakit atau dalam perjalanan, atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, bertayamumlah dengan debu yang bersih ….

 

Frasa “menyentuh perempuandalam ayat itu sebagian memahaminya dalam makna hakiki, yaitu bersentuhan kulit luar antara laki-laki dan perempuan sehingga mereka berpendapat bahwa bersentuhan kulit membatalkan wudhu. Pendapat itu ditunjang oleh beberapa hadis yang tidak banyak jumlahnya dan kedudukannya pun tidak begitu kuat.

 

Misalnya, hadis berikut yang kedudukannya maukuf (bukan perkataan Rasulullah Saw.), “Ciuman seorang suami pada istrinya dan menyentuhnya dengan tangannya, termasuk mulamasah (bermesraan). Barang siapa mencium istrinya atau menyentuhnya, maka baginya harus wudhu” (H.R. Malik dari Abdullah bin Umar r.a.).

 

Sementara, sebagian lagi memahami dan menafsirkan bahwa menyentuh perempuan dalam ayat tadi mengandung makna majazi (kiasan) sehingga maksudnya adalah hubungan intim (bersetubuh). Dengan alasan itu, mereka berpendapat bahwa menyentuh perempuan tidak membatalkan wudhu. Pendapat itu ditunjang juga oleh beberapa hadis sahih berikut ini.

 

“Aku pernah tidur di hadapan Rasulullah Saw., sementara kedua kakiku di arah kiblatnya. Apabila hendak sujud, beliau menyentuhku, lalu aku lipatkan kedua kakiku, dan apabila Rasul berdiri, maka aku membentangkan (kakiku) kembali.” (Muttafaq ‘alaih dari Aisyah r.a.)

 

Dalam hadis tersebut, dijelaskan bahwa Rasulullah Saw. pernah menyentuh kaki Aisyah dengan tangannya sebagai isyarat agar kaki Aisyah ditarik karena menghalangi ketika beliau akan sujud. Sentuhan tersebut tentu tanpa pembatas kulit karena sudah pasti Rasulullah menyentuhkan tangannya langsung pada kaki Aisyah. Keterangan yang sama juga terdapat dalam beberapa hadis lainnya, seperti dalam riwayat Muslim dan Nasa’i dengan kedudukan hadis yang sahih.

 

 

Mengingat penafsiran ayat tadi mengenai “menyentuh perempuan” diartikan dengan hubungan intim atau bersetubuh, yang merupakan penafsiran Ibnu ‘Abbas dan Ali bin Abi Thalib sebagai ulama tafsir terkemuka dari kalangan sahabat, maka pendapat ini dinilai lebih tepat.

 

 

Jadi, bersentuhan dengan lawan jenis tanpa disertai syahwat tidak membatalkan wudhu. Demikian penjelasannya semoga bermanfaat. Wallahu’alam bishshawab. [ ]

 

 

Sumber: Tanya Jawab Ustadz Online bersama Ust Aam Amiruddin

4

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

480

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *