Cara Shalat Gerhana Bulan, Ini Yang Diajarkan Rasul

JAKARTA,BIO.COM – – Gerhana bulan,shalat gerhana,Cara Sahalat Gerhana Bulan,Cara Shalat Gerhana Dan Bacaannya,Doa gerhana

 

Pada Rabu dini hari (17 Juli 2019) akan terjadi fenomena alam luar biasa atas Kehendak dan Keagungan Allah Swt, yaitu: Gerhana Bulan yang bisa dilihat di seluruh wilayah Indonesia, prediksi bayangan gelap mulai pukul 03:01 wib hingga 05:59 Wib.

 

Berdasarkan beberapa riwayat, shalat Gerhana yang dicontohkan Rasulullah Saw. adalah dua rakaat dengan empat kali ruku dan empat kali sujud. Aisyah r.a. berkata,

 

Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Saw. Beliau lalu mengutus seorang penyeru mengumandangkan ‘Asshalatu Jaami’at’. Kemudian beliau shalat empat kali ruku pada dua rakaat dan empat kali sujud” (H.R. Bukhari, Muslim, Ibnu Hibban, dan Nasa’i).

 

 

Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa shalat Gerhana dilakukan di masjid dan berjamaah.

 

Terdapat beberapa hadis dhaif yang menyebutkan bahwa perempuan dilarang ikut dalam jamaah shalat gerhana. Hal tersebut langsung terbantahkan dalam hadis berikut ini.

 

 

Pada masa Rasulullah Saw. terjadi gerhana matahari. Asma mendatangi Aisyah dan ternyata dia sedang shalat. “Kenapa orang-orang mendirikan shalat?” tanya Asma. Aisyah memberi isyarat dengan kepalanya ke langit. “Peringatan dari Allah?” tanya Asma lagi. Ketika itu Rasulullah Saw. berdiri sangat lama dalam shalatnya sehingga Asma tampak letih dan hampir tak sadarkan diri. Lalu Asma mengambil sekantung air yang berada di dekatnya dan menyiramkan ke atas kepala dan wajahnya. Setelah Rasulullah Saw. selesai shalat, matahari telah tampak kembali.” (Muttafaq ‘alaih)

 

 

Menanggapi hadis ini, Ibnu Qudamah r.a. berkata, “Wanita juga dianjurkan shalat Kusuf berjamaah. Sebab, Aisyah dan Asma turut shalat bersama Rasulullah.” An-Nawawi mengungkapkan, “Hadis di atas menunjukkan bahwa wanita dianjurkan shalat gerhana secara berjamaah dan posisinya berada di belakang jamaah pria.”

 

Singkatnya, gerakan dalam shalat Gerhana adalah sebagai berikut.

Rakaat pertama:

  • Takbiratul Ihram
  • Membaca doa iftitah
  • Membaca Al-Fātiĥah
  • Membaca surat yang ada dalam Al-Qur’an
  • Ruku
  • I’tidal (bangkit dari ruku)
  • Jika dalam shalat wajib setelah i’tidal dilanjutkan dengan sujud, dalam shalat Gerhana badan kembali tegak dan bersedekap seperti setelah melakukan takbiratul ihram. Kemudian membaca Al-Fātiĥah, surat dalam Al-Qur’an, ruku, dan sujud seperti biasa. Urutan 1-7 dihitung satu rakaat. Jadi, dalam satu rakaat ada dua kali ruku dan dua kali sujud.

 

Rakaat kedua dilaksanakan sama persis seperti rakaat pertama, tetapi tanpa membaca doa iftitah. Kemudian, ditutup dengan tasyahud akhir.

 

Bacaan dalam Shalat Gerhana

Shalat gerhana tidak didahului dengan azan dan iqamah. Hal ini sebagaimana keterangan Aisyah yang berkata, “Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Saw. Beliau lalu mengutus seorang penyeru mengumandangkan ‘Asshalatu Jaami’at’.Kemudian beliau shalat empat kali ruku pada dua rakaat dan empat kali sujud.” (H.R. Bukhari, Muslim, Ibnu Hibban, dan Nasa’i).

 

 

Rasulullah hanya memerintahkan seseorang untuk mengumumkan ajakan dilaksanakan shalat berjamaah, tetapi tidak pernah ada perintah melakukan azan dan iqamah.

 

Mengenai bacaan Rasulullah dalam shalat gerhana, terdapat beberapa keterangan.

 

Aisyah r.a. telah berkata, “Telah terjadi gerhana matahari. Rasulullah Saw. lalu berdiri (shalat) kemudian membaca surat yang panjang, lalu ruku (sangat) lama, kemudian bangkit dari ruku lalu mulai membaca surat yang lain, kemudian ruku sampai selesai, dan bersujud. Beliau juga melakukan hal seperti itu pada rakaat kedua.” (H.R. Bukhari)

 

Walaupun dalam hadis tersebut tidak disebutkan mengenai bacaan Al-Fātiĥah, hal itu tidak perlu diperdebatkan lagi karena, Al-Fātiĥah merupakan salah satu rukun shalat sehingga sudah dapat dipastikan beliau membaca surat tersebut. Beliau tidak pernah meninggalkan surat ini dalam bacaan shalatnya, baik itu shalat wajib maupun shalat sunat.

 

Tidak ada keterangan khusus dalam hadis-hadis sahih mengenai surat yang dibaca Rasulullah Saw. Namun, dapat dipastikan surat-surat yang dibaca tersebut sangat panjang, salah satunya keterangan dari Asma di atas.

 

“… Ketika itu Rasulullah Saw. berdiri sangat lama dalam shalatnya sehingga Asma tampak letih dan hampir tak sadarkan diri. Lalu Asma mengambil sekantung air yang berada di dekatnya dan menyiramkan ke atas kepala dan wajahnya. Setelah Rasulullah Saw. selesai shalat, matahari telah tampak kembali.” (Muttafaq ‘alaih)

 

Sumber: buku ” Sudah Benarkah Shalatku? ” penerbit Khazanah Intelektual

3

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

510

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *