Hukum Hubungan Intim Saat Istri Hamil Menurut Islam, Boleh atau Terlarang ?

 

JAKARTA,BIO.COM – – Hukum Hubungan Suami Istri Saat Hamil,Hukum Suami Meninggalkan Istri Saat Hamil,Hukum Suami Menceraikan Istri Saat Hamil,Hukum Suami Talak Istri Saat Hamil,Hukum Suami Membentak Istri Saat Hamil,Hukum Suami Menyakiti Istri Saat Hamil,Hukum Suami Memarahi Istri Saat Hamil,Hukum Suami Yang Meninggalkan Istri Saat Hamil,Hukum Suami Pukul Istri Ketika Hamil,Hukum Suami Menyakiti Hati Istri Saat Hamil,Hukum Suami Membunuh Binatang Saat Istri Hamil,Hukum Suami Cukur Rambut Saat Istri Hamil,Hukum Suami Mengatakan Cerai Saat Istri Hamil,Hukum Istri Menggugat Cerai Suami Saat Hamil,Hukum Suami Yang Menyakiti Hati Istri Saat Hamil,Hukum Suami Potong Rambut Saat Istri Hamil Menurut Islam,Hukum Suami Mentalak Istri Saat Hamil,Hukum Suami Potong Rambut Saat Istri Hamil,Hukum Suami Meninggalkan Istri Ketika Hamil,Frekuensi Hubungan Suami Istri Saat Hamil,Hubungan Suami Istri Saat Hamil 7 Minggu,

TANYA:

Assalamu’alaykum. Maaf mau bertanya, kami termasuk pengantin baru yang menikah 3 bulan yang lalu. Alhamdulillah saat ini istri hamil 2 bulan. Bagaimana hukum dalam Islam, apakah boleh berhubungan dengan istri yang sedang hamil? Bagaimana tinjauan secera medisnya ? terima kasih ( U via email ) 

 

 

JAWAB:

Wa’alaykumsalam, ada beberapa ungkapan yang berkembang dalam masayarakat kita misalnya,

“Mas, Hati-hati ya, istrinya masih hamil muda, puasa dulu”

“kalau sedang hamil besar, tidak boleh nanti sulit melahirkan”

“hati-hati mas, nanti bayinya bisa terganggu”

Sering timbul pertanyaan atau ada berbagai pernyataan mengenai hal ini. Apakah berbahaya? Bagaimana caranya? Harus hati-hati? Apakah benar-benar harus bersabar dan puasa? Bagaimana pandangan Islam dalam hal ini?

 

Hukumnya dalam Islam

Hukumnya adalah mubah/boleh.Karena ini adalah perkara dunia, maka perkara dunia hukum asalnya mubah/boleh sampai ada dalil yang melarang. sebagaimana kaidah fiqh

الأصل في الأشياء الإباحة

“hukum asal urusan dunia adalah mubah/boleh”

 

Selama tidak menimbulkan bahaya. Dan juga tidak memberatkan serta membuat istri merasa tersiksa. Misalnya ketika trimester pertama (tiga bulan pertama), biasanya wanita hamil mengalami mual-muntah (morning sicknes), maka sebaiknya suami tidak memaksakan. Ini sebagai bentuk muamalah dan pergaulan yang baik dengan istri, sesuai dengan firman Allah Ta’ala,

وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالمَعْرُوْفِ

Pergaulilah istrimu dengan baik.” (An-Nisa’ : 19)

Dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah (komite Fatwa di Saudi) dijelaskan,

وإن كان القصد وطء الزوج لزوجته الحامل فلا بأس بذلك؛ لأن الله لم يحرم وطء الزوجة إلا في حالة الحيض أو النفاس أو الإحرام.

“Adapun jika yang dimaksudkan adalah seorang suami menyetubuhi istrinya yang hamil, maka tidak mengapa/boleh. Karena Allah tidaklah melarang mencampuri istri kecuali pada masa haidh, nifas dan ihram.”[1]

 

Ada hadits larangannya?

Ada hadits yang dzahirnya melarang menyetubuhi wanita hamil, yaitu:

لَا توطأ حامل حتى تضع

Wanita hamil tidak boleh diajak berhubungan intim sampai dia melahirkan.”[2]

Akan tetapi maksud dari hadits ini adalah wanita tawanan perang (yang akan menjadi budak) yang hamil dari suami sebelumnya. Maka tidak boleh menyetubuhi mereka sampai mereka sampai mereka melahirkan(budak wanita boleh disetubuhi oleh tuannya).  Ar-Rabi’ bin Habib berkata,

مَعْنَى الْحَدِيثِ فِي الإِمَاءِ ، أَيْ لا يَطَؤُهُنَّ أَحَدٌ مِنْ سَادَاتِهِنَّ حَتَّى يُسْتَبْرَيْنَ ، وَأَمَّا الزَّوْجُ فَحَلالٌ لَهُ الْوَطْءُ لامْرَأَتِهِ الْحَامِلِ

“Makna hadis ini berkaitan dengan budak, yaitu tuan budak tersebut tidak boleh menyetubuhi budak yang hamil sampai rahimnya bersih. Adapun suami, dia dihalalkan untuk menyetubuhi istrinya yang hamil.”[3]

 

Aman tidak secara medis?

Jawabannya aman, baik itu pada awal-awal kehamilan maupun ketika hamil besar. Asalkan memperhatikan posisi , gerakan dan kekuatan yang sesuai (tidak kasar) serta tidak berlebihan intensitas dan lamanya dimana istri sampai merasa kelelahan.

Memang ada beberapa keadaan yang tidak dianjurkan atau berhati-hati ketika berhubungan intim, yaitu pada keadaan abnormal seperti:
– Plasenta previa (plasenta terletak di dekat atau di atas leher rahim)

– Berisiko keguguran atau ada riwayat

-pecah ketuban

-Pendarahan vagina.

-Sering kram perut

-kelemahan servik/rahim

Berikut posisi-posisi yang aman khusunya ketika sudah hamil besar, tetapi kami tidak merincinya karena artikel ini untuk bacaan umum dan kami yakin suami-istri sudah mengetahuinya karena ini adalah fitrah manusia,

-suami di atas

Bisa meletakkan bantal di belakang punggung istri sehingga suami tidak menekan perut.

-istri di atas

-dari belakang

-dari samping sambil berbaring

 

Adapun ketika berhubungan kemudian istri mencapai klimaks, kemudian perut terasa kejang karena kontraksi, maka tidak masalah. Karena ini semacam pijatan ringan, tidak mempengaruhi janin di dalam rahim.

 

Demikian, semoga bermanfaat

 

Sumber: muslimafiyah.com

 


[1] Fatwa no. 16591,sumber: http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaSubjects.aspx?View=Page&HajjEntryID=0&HajjEntryName=&NodeID=4829&PageID=6952&SectionID=3&SubjectPageTitlesID=27801&MarkIndex=0&0

[2] HR. Abu Daud, disahihkan Al-Albani.

[3]Musnad Ar-Rabi’ bin Habib, keterangan hadis no. 528

 

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *