Pengertian dan Tata Cara Ta’ruf yang Dibenarkan dalam Islam

Jakarta, BIO.COM—Sering kali kita mendengar istilah Ta’aruf. Perlu ditekankan bahwa Ta’aruf bukan istilah atau kata pengganti dari pacaran atau pun “pacaran dalam Islam”. Beberapa orang berlindung di balik kata Ta’ruf untuk melegalkan praktik berdua-duaan yang selama ini menjadi hal yang biasa dalam pacaran. Oleh karena itu, berhati-hatilah! Lalu apa yang dimaksud dengan Ta’ruf?

Ta’aruf berasal dari kata ‘arafa yang artinya mengetahui. Ta’aruf memiliki maka saling mengenal. Kata ‘arafa terdapat dalam Al-Quran surat Al-Hujurat Ayat 13 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Bagaimana tata cara taaruf yang dibenarkan dalam Islam?

Ta’aruf yang dibenarkan oleh Islam adalah yang mematuhi rambu-rambu sebagai berikut:

  1. Menjaga pandangan mata dan hati dari hal-hal yang diharamkan

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surat An-Nur ayat 30-31 yang artinya:

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat . Katakanlah kepada wanita yang beriman:  Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya….”

  1. Materi pembicaraan tidak mengandung dosa dan tidak bermuatan berahi

Firman Allah dalam Quran surat An-Nisa ayat 114, yang artinya:

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.”

  1. Menghindari khalwat (mojok)

 Rasulullah SAW. bersabda:

 “Janganlah sekali-kali seorang laki-laki menyendiri dengan perempuan yang tidak halal baginya karena yang ketiganya dalah setan, kecuali ada mahramnya” (H.R. Ahmad)

  1. Menghindari sentuhan fisik

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya aku tidak pernah bersalaman dengan wanita (bukan muhrim)” (H.R. Bukhari)

  1. Menjaga aurat masing-masing sesuai aturan syar’i dalam Islam

Batasan aurat wanita dalah seluruh tubuhnya kecuali muka, punggung tangan dan telapak tangan. Sementera ada dua pendapat mengenai aurat laki-laki. Pertama aurat laki-laki ialah dari pusar sampai lutut. Dengan demikian berarti bagian tubuh di bawa pusar hingga paha termasuk aurat. Ini didasarkan hadis ketika Rasulullah saw bersabda kepada Ma’mur (sedang keuda pahanya terbuka), “Wahai Ma’mur, tutuplah kedua pahamu itu karena kedua paha itu aurat”. Kedua aurat laki-laki hanyalah qubul dan dubur (kelamin dan tempat keluar kotoran). Ini didasari hadis dari Anasa r.a yang berkata, “Nabi saw. pada hari Khaibar menyingkapkan sarung dari pahanya hingga aku betul-betul melihat warna putih pahanya” (H.R. Bukhari). Jika paha termasuk aura, tentunya Rasulullah tidak akan menyingkap sarung sampai terlhat pahanya.

Sumber:  Membingkai Surga Dalam Rumah Tangga oleh Ustadz Dr. Aam Amirudin & Ayat Priyatna Muhlis

Ilustrasi: Pixabay

2

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

922

Like Fanpage Kami untuk Artikel Terbaru! Berita Islam Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *