Partisipasi Wanita Dalam Politik Menurut Pandangan Islam

Jakarta, BIO.COM— Apakah partisipasi wanita dalam politik dibenarkan dalam Islam?

Kini semakin banyak tokoh wanita yang kompeten dalam bidang dan profesinya masing-masing. Sama halnya dengan bidang politik, banyak wanita hebat di Indonesia yang turun ke dalam dunia politik. Bagaimana pandangan Islam terhadap partisipasi wanita dalam politik?

Dalam Quran Surat At-Taubah ayat 71, Allah memosisikan sebuah masyarakat sebagai amanah yang harus diemban oleh setiap mukmin dan mukminah yang mendambakan cahaya, dan Allah telah menetapkan bahwa masing-masing dari mereka sebagau penanggung jawab atas amanah tesebut, tidak ada yang dikecualikan dari mereka, baik laki-laki maupun wanita.

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Allah menjelaskan bawah setiap insan baik laki-laki maupun wanita memiliki tanggung jawab terhadap seluruh komponen masyarakat, baik dalam bidang politik, ekonomi, managerial, pemikrian, maupun sosial kemasyarakatan. Oleh karena itu bagi wanita tugasnya juga dalah melaksanakannya, baik melalui Dewan Perwakilan Rakyat atau organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan. Namun, semua itu harus dilakukan dengan syarat masih berada dalam koridor yang sesuai dengan fitrah dan tingkat keilmuan wanita sehingga memudahkan mereka untuk memahami berbagai persoalan dan sesuai pula dengan kemampuan mereka untuk dapat menyampaikan kritik (amar ma’ruf nahi munkar).

Rasulullah SAW. bersabda, “Barang siapa yang tidak memiliki kepedulian terhadap urusan kaum muslimin, maka ia bukan termasuk golongan mereka” [H.R. Baihaqi]

Apakah wanita boleh menjadi pemimpin?

Dalam Islam, wanita tidak dilarang untuk memiliki wakilnya yang dipandang cakap dan mumpuni guna menyalurkan aspirasinya dan memperjuangkan hak-haknya. Bagi wanita yang kompeten, mereka memiliki hak untuk mengkritik dan mengawasi. Hal mengkritik dan mengawasi termasuk juga dalam kerangka “memperhatikan urusan kaum muslimin”.

Dibenarkan pula bagi kaum wanita untuk menjadi pemimpin dalam wilayah kekauasaan yang bersifat khusus seperti kepala sekolah, kepala rumah sakit dan lembaga-lembaga sosial hingga ekonomi.

Adapun yang dilarang bagi kaum wanita untuk menjabatnya adalah yang ada kaitannya dengan al-wilayaul uzhma atau wilayah kekuasaan yang sifatnya menyeluruh, yaki khilafah. Termasuk di dalamnya adalah menjadi presiden, raja, dan jabatan yang sejenis. Rasulullah SAW. bersabda:

“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan kekuasaan mereka kepada seorang wanita” [H.R. Bukhari, Tirmidzi, Nasa’i, Dan Ahmad]

Sumber: Fiqih Wanita Empat Mahzhab oleh Dr. Muhammad Utsman Al-Khasyt

Ilustrasi foto: pixabay

2

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

922

Like Fanpage Kami untuk Artikel Terbaru! Berita Islam Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *