Hukum Pembuahan Medis dan Bayi Tabung dalam Islam

Jakarta, BIO.COM— Permasalahan bayi tabung memiliki urgenitas dan sensitivitas yang tinggi. Praktik bayi tabung telah dilakukan dalam skala luas di berbagai rumah sakit di belahan dunia guna mengatasai masalah kemandulan.

Bayi tabung atau in intro vertilization ialah pembuahan antara sel sperma dan sel telur manusia yang diproses di dalam tabung. Permasalahan ini berkaitan dengan hukum fiqih permasalahan wanita kontemporer. Pembuahan medis dan bayi tabung memiliki berbagai keadaan yang beragam, diantarany ada yang diperbolehkan dan ada juga yang tidak diperbolehkan. Bagaimana hukum pembuahan medis dan bayi tabung menurut tinjauan Syariat Islam? Simak penjelasan berikut.

Jika pembuahan medis ini dilakukan dari pembuahan sel telur seorang wanita oleh sel sperma suaminya kemudian sel telur yang telah dibuahi itu ditanam di rahim wanita yang bersangkutan, maka diperbolehkan menurut syariat Islam.

Pembuahan Medis dan Bayi Tabung yang Diharamkan oleh Syariat Islam
  1.  Jika dilakukan antara sel telur seorang wanita oleh sel sprema laki-laki yang bukan suaminya. Pembuahan medis seperti ini di dalamnya terkandung “makna zina”. Mengapa demikian? Karena telah terjadi peletakan sel sperma laki-laki ajnabu di dalam rahim seorang wanita yang tidak terikat oleh akad syar’i.
  2. Ketika seorangg wanita sudah tidak mampu lagi mengandung janin karena rahimnya terganggu. Akan tetapi ovariumnya masih dalam keadaan sehat dan produktif. Kemudian sel telurnya diambil dan dilakukan pembuahan oleh sel sperma suaminya di dalam sebuah tabung.Lalu ditanamkan di rahim wanita yang sukarela atau tidak bersedia mengandung janin tersebut. Sehingga janin tersebut tumbuh di Rahim wanita lain hingga ia melahirkan janin tersebut.
  3. Ketika seorang wanita masih mampu untuk hamil, namun ovariumnya sudah tidak prouktif lagi. Kemudian dilakukan pembuahan medis antara sel sperma suaminya dengan sel telur wanita lain yang bukan istrinya. Kemudian sel telur yang telah dibuahi diambil untuk ditanamkan dalam rahim sang istri.

Ketiga macam jenis pembuahan di atas haram hukumnya dilakukan dalam islam. Hanya pembuahan medis macam pertama saja yang diperbolehkan. Adapun berbagai macam pembuahan medis lainnya, sudah pasti akan merusak nasab dan terkandung padanya “makna zina”. Oleh karena itu, semua itu diharamkan ditinjau dari kaidah-kaidah syariat yang bersifat menyeluruh dan tujuan-tujuan syariat yang sudah pasti.

Sumber: Fiqih Wanita Empat Mahzab oleh Dr. Muhammad Utsman Al-Khasyt

Ilustrasi foto: pixabay

3

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

922

Like Fanpage Kami untuk Artikel Terbaru! Berita Islam Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *