Hukum Merayakan Maulid Nabi: Pendapat Ulama 4 Mahzab

Jakarta, BIO.COM—Setiap tahunnya pada bulan Rabiul Awal, umat muslim di seluruh dunia merayakan peringatah maulid nabi. Apa hukumnya?

Bulan Rabiul Awal ini merupakan salah satu bulan yang istimewa. Pada bulan ini manusia terbaik utusan Allah termulia dilahirkan di dunia. Pada hari Senin 12 Rabiul Awal 576 M, baginda Nabi Muhammad Saw dilahirkan dari pasangan Sayyid Abdullah dan Sayyidah Aminah Radliya Allahu ‘anhuma.  Kata maulid berasal dari milad  dalam bahasa Arab yang berarti “hari lahir”. Namun, peringatan terhadap kelahiran baginda Nabi Muhammad ternyata bukanlah tradisi yang ada ketika rasul hidup. Perayaan ini menjadi tradisi dan berkembang luas dalam masyarakat dan kehidupan umat Islam dari berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, jauh sesudah Rasulullah wafat. Jadi, selama rasul hidup ternyata tidak ada namanya tradisi maulid nabi, bahkan pada zaman sahabat sekalipun. Lantas bagaimana pendapat para ulama 4 madzhab mengenai tradisi perayaan maulid nabi?

  1. Madzhab Syafi’i

Al-Imam al-Suyuthi dari kalangan ulama’ Syafi’iyyah mengatakan: “Perayaan maulid termasuk bid’ah yang baik, pelakunya mendapat pahala. Sebab di dalamnya terdapat sisi mengagungkan derajat Nabi Saw dan menampakan kegembiraan dengan waktu dilahirkannya Rasulullah Saw”.  

Dalam kesempatan yang lain, beliau mengatakan: “Sunah bagi kami untuk memperlihatkan rasa syukur dengan cara memperingati maulid Rasulullah Saw, berkumpul, membagikan makanan dan beberapa hal lain dari berbagai macam bentuk ibadah dan luapan kegembiraan”.

  1. Madzhab Hanafi

Dari kalangan Hanafiyyah, Syaikh Ibnu ‘Abidin mengatakan: “Ketahuilah bahwa salah satu bid’ah yang terpuji adalah perayaan maulid Nabi pada bulan dilahirkan Rasulullah Muhammad Saw”.   Bahkan setiap tempat yang di dalamnya dibacakan sejarah hidup Nabi Saw, akan dikelilingi malaikat dan dipenuhi rahmat serta ridho Allah Swt.

  1. Madzhab Maliki

Al-Imam Ibnu al-Haj ulama’ dari kalangan madzhab Maliki mengatakan:

“Tidaklah suatu rumah atau tempat yang di dalamnya dibacakan maulid Nabi Saw, kecuali malaikat mengelilingi penghuni tempat tersebut dan Allah memberi mereka limpahan rahmat dan keridloan”.  

  1. Madzhab Hambali

Al-Imam Ibnu Taimiyyah dari kalangan madzhab Hambali mengatakan:

Mengagungkan maulid Nabi dan menjadikannya sebagai hari raya telah dilakukan oleh sebagian manusia. Mereka mendapat pahala besar atas tradisi tersebut, karena niat baiknya dan karena telah mengagungkan Rasulullah Saw”.

 Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tradisi merayakan maulid Nabi Saw merupakan bid’ah yang baik (disunahkan).

Dengan adanya perayaan maulid nabi, umat Islam diharapkan bisa mengingat kembali betapa gigih perjuangan rasul dalam menyebarkan ketauhidan. Satu hal yang harus dilakukan umat Muslim ketika merayakan maulid nabi adalah meneladani sikap dan perbuatan, terutama akhlak mulianya.

Sumber: muslim.nu.or.id, islamcendikia.com

Ilustrasi foto: pixabay

1

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

922

Like Fanpage Kami untuk Artikel Terbaru! Berita Islam Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *