Suami Sebagai Pemimpin: Apa Saja Kewajibannya terhadap Istri?

Jakarta, BIO.COM— suami merupakan pimpinan tertinggi dalam keluarga. Sebenarnya apa saja kewajiban suami?

Makna laki-laki sebagai pemimpin bukan berarti menempatkan wanita lebih rendah derajatnya. Makna pemimpin alah partner, teman, atau sahabat. Ketika istri sibuk dengan pekerjaan rumahnya, maka suami harus membantu menyelesaikan tugas rumah lainnya. Pun ketika usaha suami atau terkena phk, maka istri sebisa mungkin membantu mencari nafkah. Lalu apa saja kewajiban suami yangharus diberikan kepada keluarga, terlebih istrinya?

Allah swt menegaskan dalam al-quran surat an-nisa ayat 34:

 الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka….”

  1. Memberikan bimbingan ruhiyah

Kewajiban yang pertama dan utama bagi seorang suami ialah memastikan kondisi keimanan anggota keluarga yang dipimpinnya selalu dalam keadaan kokoh. Memberikan bimbingan ruhiyah kepada keluarga haruslah dengan cara yang bijak. Rasulullah saw. pernah mengingatkan kepada para suami melalui sabdanua, “Nasihatilah para wanita (istri) itu dengan cara yang bijak. Sesungguhnya wanita itu tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, tapi jika engkau lrusukan (dengan paksa) akan patah. Maka nasihatilah wanita itu dengan bijak” (H.R Bukhari)

Perkawianan yang didasari oleh keimanan akan menciptakan suasana rumah tangga yang nyaman (sakinah, saling percaya, dan takwa.

  1. Memberikan nafkah lahir

Suami tidak boleh melupakan kewajibannya untuk mewujudkan kebahagiaan dalam rumah tangganya, yaotu dengan memenuhi kebutuhan material (lahiriyah) anggota keluarga. Allah swt berfirman :

….. kewajiban ayah, yaitu memberikan nafkah dan pakaian kepada mereka dengan cara yang baik. Seseorang tidak dibebani melainkan sesuai dengan kada kemampuannya” [Q.S. Al-Baqarah: 233]

Selain kebutuhan lahiriyah, istri pun berhak mendapatkan kebutuhan batiniah sebagaimana firman-nya,

Istri-istrimu itu seperti lading bagimu, maka datangi ladangmu kapan saja dengan cara yang kamu sukai…” [Q.S. Al-Baqarah:233]

Ayat tersebut sebegai isyarat bagi para suami untuk memberikan kebutuhan biologis (seksual) kepada istrinya. Dalam berhubungan seks, kita tidak boleh melakukannya dengan cara apa pun sesuai kehendak, keinginan, serta kesepakatan dengan pasangan masing-masing.

  1. Menghindari KDRT

Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) seolah tak henti-hentinya diberitakan. Mereka ialah laki-laki yang tidak paham bagaimana memperlaukan anggota keluarganya dengan santi sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Swt. Kekerasan terhadap wanita atau anak-anak adalah sartu bentuk kriminalitas. Pengertian kriminalitas dalam Islam adalah tindakan yang melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam.

Jika suami dan istri menyadari perannya dan melaksanakan hak serta kewajiban sesuai syariat Islam, nisacaya tidak dibutuhkan kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Sebenarnya KDRT dapat dihindari jika fondasi rumah tangga kita dibangun berdasrkan nilai-nilai Islam, dikemudikan dengan jiwa kasih sayang, dan diarahkan oleh peta keimanan.

Sumber: Mengapa Menunda Menikah oleh Aam Amirudin & Ayat Priyatna Muhlis

Ilustrasi foto: pixabay

2

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

922

Like Fanpage Kami untuk Artikel Terbaru! Berita Islam Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *