Hukum Menyayangi Bayi yang Lahir dari Hasil Pezinaan

Jakarta, BIO.COM— Sering kali kita mendengar istilah ‘Bayi Haram’ atau ‘Anak Haram’. Sungguh terhinalah mereka yang menyebut seorang anak dengan panggilan yang buruk.

Nabi SAW. mengaharuskan kita untuk memanggil anak-anak kita dengan panggilan yang baik. Sesungguhnya suatu ucapan itu adalah doa. Nabi juga mencontohkan kita untuk selalu menyayangi anak-anak. Bukti kecintaan Nabi kepada anak-anak sangatlah besar. Sebagaimana diriwayatkan dalam Hadist bahwa Nabi berhenti sejenak dari khutbahnya untuk menghampiri seorang anak yang berjalan tertatih-tatih. Tidak hanya itu, bukti belas kasihan Nabi kepada bayi dan keinginan beliau sangat kuat agar bayi tumbuh menjadi besar dari air susu ibu ialah kisah wanita dai Bani Ghaimidiyah. Kisah ini menjadi contoh bagi kita untuk selalu menyanyangi anak-anak kita, sekali pun dari hasil perzinaan.

Seorang wanita dari Bani Ghaimidiyah datang kepada Nabi dan mengaku bahwa dirinya telah pulang mengandung dari perzinaan. Beliau bersabda, ‘Pulanglah sampai kamu melahirkan.’

Setelah melahirkan ia datangi lagi sambal menggendong bayinya dan berkata,’Wahai Nabi Allah, bayi ini telah saya lahirkan.’ Akan tetapi Nabi bersabda, ‘ Pulanglah, susui ia sampai kamu menyapihnya.’ Setelah wanita itu menyapihnya, ia datang dengan membawa bayinya yang sedang memegang sepotong roti di tangan. Ia berkata, ‘Wahai Nabi Allah, bayi ini telah saya sapih dan kini ia sduah bisa makan sendiri.’ Nabi pun memerintahkan agar bayi itu diserahkan kepada salah seorang lelaki dari kaum muslimin dan memerintahkan agar dibuatkan galian sebatas dada untuk menanam tubuh wanita itu. Kemudian beliau memerintahkan kepada orang-orang untuk merajamnya dan mereka pun segera merajamnya. [H.R. Muslim No.3298]

Mencermati hadis di atas, maka pesan-pesan yang terkandung ialah:
  1. Nabi tidak memberikan isyarat apa pun terhadapnya agar melakukan aborsi, meskipun beliau mengetahui bayi itu hasil dari hubungan zina
  2. Rasulullah memerintahkan agar wanita tersebut pulang dan tinggal di rumahnya sampai melahirkan
  3. Nabi menyerahkan bayi itu kepada salah seorang diantara kaum muslimin agar dirawat dan dididik.

Itulah kasih sayang Nabi terhadap anak hasil zina dan keinginan beliau agar bayi itu tidak telantar. Apa dosa anak yang baru lahir hingga ia harus menanggung konsekuesi perbuatan dosa orang tuanya?

Sumber: Islamic Parenting oleh Syaikh Jamal Abdurrahman

Ilustrasi Foto: Pixabay

3

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

922

Like Fanpage Kami untuk Artikel Terbaru! Berita Islam Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *