Anak Sulit Dinasihati? Begini Tips Menasihati Anak Agar Lebih Mengena

Jakarta, BIO.COM— Menasihati anak dengan lebih dulu memujinya agar lebih mengena

Nabi kita adalah orang yang mengetahui jiwa manusia dengan berbagai macam seluk-beluk dan kecenderungannya. Beliau adalah seorang yang sangat bepengalaman untuk mendundukkannya. Beliau terkadag memakai pujian untuk memberikan doroongan semangat atau mengunggah perasaan agar jiwa yang bersangkutan merespons dan mau melaksanakan nasihatnya dengan suka rela tanpa ada paksaan dan senang tanpa rasa takut. Sebagaimana pun seorang anak seringkali merasa kesal ketika dinasihati dalam kebaikan. Padahal orang tua hanya ingin yang terbaik bagi anaknya. Semua orang tua pasti ingin menuntun anaknya menuju kebaikan. Sebagaimana Rasulullah, sebaik-baiknya teladan bagi manusia, maka kita harus mencontohnya.

Ibnu Umar berkata, “Pada masa Rasulullah, ketika aku masih muda dan belum menikaj, aku sering tidur di masjid. Dalam tidurku, aku bermimpi seakan-akan ada dua malaikat yang membawaku ke neraka.” Ibnu Umar melanjutkan kisahnya, “Kami didatangi oleh malaikat lain yang berkata,’Kamu jangan takut’.”

Selanjutnya dia menceritakan mimpinya itu kepada Hafshah. Kemudian Hafshah menceritakannya kepada Rasulullah. Maka, beliau bersabda, “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah, seandainya ia mengerjakan shalat malam.”

Sejak saat itu, Abdullah bin Umar mengerjakan shalat malam dan hanya tidur sebentar. Pujian yang dikemukakan oleh Nabi ternyata dapat memotivasi dirinya untuk mengerjakan shalat malam secara teratur.

Adab menasihati anak

Al-Ghazali menjelaskan, “Apabila dalam diri seorang anak terlihat akhlak yang baik dan perbuatan yang terpuji, hendaklah ia dihormati, diberikan imbalan kepadanya sesuatu yang dapat menyenangkan, dan dipuji di hadapan orang banyak guna menyemangatinya untuk melanjutkan akhlak yang mulia dan perbuatan terpujinya.

Apabila sang anak melakukan hal yang bertentangan dengan apa yang telah disebutkan di atas dan di sisi lain ia berupaya keras untuk menyembunyikannya, hendaklah sang pendidik berpura-pura seakan tidak mengetahui sesuatu pun yang dilakukannya agar si anak tidak merasa malu dengan kesalahannya. Apabila ternyata si anak mengulangi kesalahannya, hendaknya ia ditegur secara rahasia, dijelaskan akibat kekeliruannya, dibimbing kea rah yang benar, dan diperingatkan agar tidak mengulangi lagi kekeliruannya”

Sumber: Parenting Islam oleh Syaikh Jamal Abdrurrahman

2

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

922

Like Fanpage Kami untuk Artikel Terbaru! Berita Islam Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *