Apa Hukumnya Umat Islam Merayakan Tahun Baru Masehi?

Jakarta, BIO.COM— Bolehkah umat muslim merayakan tahun baru?

Tahun 2019 akan segera berakhir, menyambut tahun 2020 banyak orang yang bersiap untuk berpesta merayakan pergantian tahun. Berbagai acara digelar untuk merayakan pergantian tahun 2019, dari mulai pesta kembang api, menggelar BBQ sampai menyalakan terompet. Berbagai kalangan juga ikut merayakannya mulai dari anak-anak hingga tua muda, tak terkecuali dengan umat muslim. Hal ini mengakibatkan pertanyaan apa hukum bagi umat muslim yang ikut merayakan tahun baru masehi? Sebagian pendapat mengharamkan dengan alasan bahwa itu tidak dicontohkan rasul, sebagian pendapat ada pula yang membolehkan. Simak penjelasannya di bawah ini.

  1. Pendapat yang Mengharamkan

Mereka yang mengharamkan perayaan malam tahun baru masehi, berhujjah dengan beberapa argumen.

Pertama, Perayaan Malam Tahun Baru ialah hari raya bagi umat nonmuslim. Hal ini berdasarkan pada sejarahnya yaitu ritual peribadatan para pemeluk agama bangsa-bangsa di Eropa, baik yang Nasrani atau pun agama lainnya. Dengan demikian, perayaan malam tahun baru masehi itu adalah perayaan hari besar nonmuslim. Maka hukumnya haram dilakukan oleh umat Islam.

Kedua, Perayaan Malam Tahun Baru Menyerupai nonmuslim. Meski barangkali ada yang berpendapat bahwa perayaan malam tahun tergantung niatnya, namun paling tidak seorang muslim yang merayakan datangnya malam tahun baru itu sudah menyerupai ibadah orang kafir. Dan sekedar menyerupai itu pun sudah haram hukumnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk meniru kebiasaan orang jelek, termasuk orang kafir. Beliau bersabda,

من تشبه بقوم فهو منهم

Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (Hadis shahih riwayat Abu Daud)

Ketiga, Perayaan Malam Tahun Baru mengandung terlalu banyak maksiat. Perayaan tahun baru seringkali identik dengan minum khamar, berzina, tertawa dan hura-hura. Bahkan bergadang semalam suntuk menghabiskan waktu dengan sia-sia. Padahal Allah SWT telah menjadikan malam untuk berisitrahat, bukan untuk melek sepanjang malam, kecuali bila ada anjuran untuk shalat malam.

Keempat, Perayaan Malam Tahun Baru termasuk ke dalam Bid’ah. Argumen ini muncul, mengingat Rasulullah tidak mengajarkan hal tersebut untuk dilakukan.

  1. Pendapat yang Menghalalkan

Pendapat yang menghalalkan berangkat dari argumentasi bahwa perayaan malam tahun baru masehi tidak selalu terkait dengan ritual agama tertentu. Semua tergantung niatnya. Kalau diniatkan untuk beribadah atau ikut-ikutan, maka hukumnya haram. Tetapi jika tidak diniatkan mengikuti ritual agama tertentu, maka tidak ada larangannya.

Argumen tersebut dianalogikan dengan hari libur yang merata bagi semua orang, sekalipun libur tersebut karena adanya hari besar agama lain.

Argumen yang membolehkan itu umumnya berpedoman pada segala pandangan bahwa sesuatu bergantung niat. Kalau berniat untuk merayakan, maka hukumnya haram. Tapi kalau tidak diniatkan merayakan, maka hukumnya boleh-boleh saja.

Adapun kebiasaan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum khmar, zina dan serangkaian maksiat, tentu hukumnya haram. Namun bila yang dilakukan bukan maksiat, tentu keharamannya tidak ada. Hal yang haram adalah maksiatnya, bukan merayakan malam tahun barunya. Misalnya, jika umat Islam memanfaatkan perayaan malam tahun baru untuk melakukan hal-hal positif, seperti memberi makan fakir miskin, menyantuni panti asuhan, membersihkan lingkungan dan sebagainya.

Terlepas dari dua perdebatan tentang boleh tidaknya merayakan tahun baru masehi bagi muslim, dalam ajaran Islam hari raya hanya ada dua saja, yaitu hari Idul Fitri dan Idul Adha. Selebihnya, tidak ada pensyariatannya, sehingga sebagai muslim, tidak ada kepentingan apapun untuk merayakan datangnya tahun baru masehi.

Sumber: islampos.com

3

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

922

Like Fanpage Kami untuk Artikel Terbaru! Berita Islam Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *