Kontroversi Jilbab Tidak Wajib Bagi Muslim, Begini Penjelasannya

Jakarta, BIO.COM— Kontroversi Jilbab Tidak Wajib Bagi Muslim, Begini Penjelasannya

Baru-baru ini melalui video yang diunggah oleh Deddy Corbuzier di channel Youtubenya membahas tentang kontroversi jilbab. Deddy mengundang Sinta Nuriyah, istri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur).  Di dalam video yang bedurasi sekitar 40 menit itu, Sinta menuturkan bahwa Jilbab dan Hijab ialah dua hal yan berbeda. Istilah jilbab dengan hijab itu beda sekali pengertiannya. Kalau jilbab itu untuk menutup kepala, hijab itu pembatas. Karen hijab itu pembatas, maka bahannya dari bahan keras seperti kayu dan sebagainya. Kalau jilbab itu barang-barang yang tipis seperti kain dan sebagainya. Ia juga mengatakkan bahwa jilbab bukan merupakan kewajiban. “Apakah semua orang itu harus memakai jilbab? Tidak juga kalau kita mengartikan ayat di dalam Al-Quran secara benar” tuturnya. Menurutnya, dalam menafsirkan Al-Quran harus dilihat secara kontekstual bukan hanya tekstual. Kalau begitu, yuk simak beberapa penjelasan ayat dan hadits yang berkaitan dengan kewajiban menutup aurat.

Perintah menutup aurat bagi wanita muslim dalam Al-Aquran

Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖوَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖوَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ  …

“…Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka ….” (QS. An-Nuur: 31)

Aurat itu wajib ditutup. Namun, yang menjadi persoalan pokok adalah apa batasan aurat bagi perempuan itu? Apakah rambut, leher dan telinga itu termasuk aurat yang wajib ditutup atau tidak?

Para ulama berdebat apakah perhiasan yang dimaksud dalam ayat di atas. Apakah yang dimaksud ini adalah tubuh perempuan, atau asesoris seperti make up dan perhiasan.

Para ulama ada yang berpendapat bahwa yang biasa kelihatan itu: pakaiannya. Artinya, menurut Ibnu Mas’ud semua tubuh wanita memang harus ditutup tidak boleh diperlihatkan kecuali pakaian luarnya yang memang bisa dilihat orang lain. Makanya kita mengerti —meski tidak harus setuju— bahwa ada perempuan yang rapat menutup seluruh tubuhnya dari atas sampai ke bawah.

Ada lagi yang berpendapat bahwa yang biasa kelihatan itu maksudnya cincin dan gelang. Ada lagi yang bilang itu maksudnya celak mata (eye liner), pewarna pipi, atau hena/inai/pacar di tangan dan kaki.

Artinya, kalau ada yang pakai jilbab terus dia memakai perhiasan atau make up di atas maka dibenarkan oleh sebagian ulama.

 

Menarik bagi kita untuk menyingkap pendapat Imam al-Qaffal yang dikutip dalam Tafsir ar-Razi:

‎فقال القفال معنى الآية إلا ما يظهره الإنسان في العادة الجارية، وذلك في النساء الوجه والكفان،

Beliau berpendapat bahwa makna ayat “kecuali yang biasa tampak” itu adalah sesuai dengan adat kebiasaan manusia. Nah, untuk kontek zaman dulu bisa dipahami bagi perempuan yang biasa kelihatan secara adat setempat adalah wajah dan kedua telapak tangan.

Ketiga mazhab (Hanafi, Maliki dan Imam Syafi’i dalam satu qaul) mengatakan wajah dan telapak tangan bukan termasuk aurat (artinya boleh dibuka sesuai dengan frase illa ma zhahara minha. Yang dimaksud dengan apa yang biasa tampak itu adalah apa yang sudah biasa secara tradisi (adat) untuk kelihatan. Itu sebabnya diriwayatkan dari Imam Abu Hanifah bahwa telapak kaki itu juga bukan termasuk aurat.

Perbedaan Jilbab dan Hijab

Menurut Bu Sinta Jilbab itu untuk menutup kepala, benarkah? Menurut Madzhab Syafi’, Imam Nawawi rahimahullahberkata, “Disebutkan dalam Al-Bayan, jilbab adalah khimar (penutup kepala) dan izar (kain penutup badan).  Jadi Jilbab itu adalah busana terusan untuk menutupi seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan tangan.

Terus kalau hijab itu apa? Secara harfiah hijab berarti penghalang atau penutup. Di Al Quran, dalam konteks ini, hijab berarti penutup secara umum baik tirai pembatas, kelambu ataupun tabir yang membuat seorang muslimah tertutupi dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya.

Jadi, Jilbab dan Hijab itu wajib nggak sih?

«قَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita, apabila telah balig (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (seraya menunjuk muka dan telapak tangannya). (HR Abu Dawud)

Pada hakikatnya menutup aurat itu wajib hukumnya. Beberapa boleh jadi memiliki pendapat yang berbeda tentang batasan aurat wanita, tapi tidak satu pun mengatakan bahwa rambut bukan aurat. Dalam melaksanakan shalat wajib saja yang menjadi syarat syahnya ialah menutup aurat dengan tidak menampakkan sehelai rambut pun. Hijab tidak menjadi ukuran ketakwaan dan kesucian seseorang. Tidak ada yang menjamin seorang yang berhijab jauh lebih baik daripada yang tidak berhijab. Namun, dengan berhijab seseorang justru akan terjaga dari kemaksiatan dan kemungkaran. Hijab adalah kewajiban seorang muslim bukan pilihan.

3

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

922

Like Fanpage Kami untuk Artikel Terbaru! Berita Islam Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *