Hukum Menyogok dalam Pekerjaan Menurut Islam, Bolehkah?

BIO.COM— Menyogok Masuk Kerja atau Gratifikasi, Apakah Dibenarkan dalam Islam?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa di Indonesia banyak sekali fenomena sogok-menyogok, apalagi dalam hal pekerjaan. Misalnya ketika seorang ingin bekerja di perusahaan X, ia akan memberikan sejumlah uang atau hadiah kepada pihak tertentu agar dirinya dapat bekerja di tempat tersebut. Selain itu, bisa juga ketika seseorang ingin naik jabatan, ia memberikan hadiah kepada atasannya. Hadiah ini tidak diberikan secara cuma-cuma, melainkan atas dasar pamrih. Artinya pihak yang diberikan hadiah harus memberikan atau membantu pihak yang memberi. Bagaimana soal menyogok dalam atau gratifikasi ini menurut syariat islam?

Perlu kita ketahui bahwa sogok-menyogok atau gratifikasi  adalah segala bentuk pemberian, baik bernilai besar maupun bernilai kecil. Gratifikasi memiliki karakterisktik tidak transaksional, sehingga pemberi seolah-olah tidak menginginkan imbal balik apapun dari penerima, padahal pemberian tersebut diberikan karena melihat posisi ataupun jabatan penerima.

Menurut pakar ekonom Islam Syafii Antonio, pemberian hadiah dinilai haram jika kondisi pemberi dan penerima pada posisi dari “bawah” ke “atas”. Misalkan, dari bawahan ke atasan, dari wajib pajak ke petugas pajak, dari rakyat ke pejabat, dan seterusnya.

Pemberian dari bawah ke atas ini dimaksudkan untuk mengharapkan suatu imbalan baik secara materi atau non-materi. Misalnya, memperlancar kepentingan bisnis, naik jabatan, pemberian wewenang atau keputusan dari atasan, dan semua hal yang berkaitan dalam ruang lingkup “bawahan ke atasan” tersebut. Ia mengharapkan ada timbal balik dari “atas ke bawah.”

Namun, jika pemberian hadiah dari atas ke bawah atau kepada sesama, hal ini diperbolehkan. Misalnya, dari orang kaya ke orang miskin, dari bos kepada karyawan atau sesama teman. Alasannya, tidak ada “udang di balik batu” dari pemberian tersebut. Pemberian hadiah didasarkan untuk memupuk persaudaraan, persahabatan, dan kasih sayang semata.

Rasulullah SAW dengan tegas melarang sahabat-sahabatnya untuk menerima gratifikasi.

Dalam Riwayat dari Abu Humaid as-Sa’idi dikisahkan, salah seorang dari suku Al-Azdi bernama Ibnu Lutbiah ditugaskan memungut zakat. Setelah ia pulang, ia melaporkan dan menyerahkan zakat hasil pungutannya kepada Baitul Mal.

“Ini pembayaran zakat mereka, lalu yang ini adalah untuk saya karena ini pemberian dari wajib zakat kepada saya pribadi,” ujar si Ibnu Lutbiah. Rasulullah SAW pun marah dan memerintahkan Ibnu Lutbiah untuk mengembalikan gratifikasi yang diterimanya.

Rasulullah SAW bersabda, “Cobalah dia (Ibnu Lutbiah) duduk saja di rumah ayahnya atau ibunya. Apakah akan ada yang memberikan (gratifikasi) kepadanya?” (HR Bukhari Muslim).

Rasulullah SAW dalam hadisnya menegaskan, menerima gratifikasi sama halnya dengan mengambil ghulul, yakni barang curian dari harta rampasan perang.

Tidak bisa dipungkiri, pejabat berwewenang yang menerima gratifikasi akan berpengaruh pada putusan dan kinerja apa yang diwewenanginya. Demikian juga pegawai pemerintahan. Ketika ia meminta atau menerima gratifikasi, ia akan cenderung melayani pemberi gratifikasi.

Demikian juga seorang hakim pasti akan terpengaruh dengan gratifikasi. Ia akan cendreung membenarkan atau membela orang yang memberi gratifikasi kepadanya.

Inilah alasannya Imam Al-Baghawi dalam kitab Syarhu as-Sunnah secara keras mengharamkan para pegawai/ pejabat pemerintah dan hakim untuk menerima gratifikasi.

Sumber: republika.co.id

Foto: Pixabay

3

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

922

Like Fanpage Kami untuk Artikel Terbaru! Berita Islam Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *