Jadikan Waktu #DiRumahAja Sebagai Media Muhasabah Diri

Jakarta, BIO.COM— Manfaatkan waktu #DiRumahAja saat physical distancing untuk muhasabah diri.

Sejak munculnya kasus positif Covid-19 di Indonesia, pemerintah mengimbau masyarakat untuk berdiam diri di rumah dan tidak melakukan aktivitas yang tidak perlu. Imbauan adalah sebagai bentuk usaha mencegah penyebaran virus yang lebih luas.

Dai Ambassador Dompet Dhuafa, Ustaz Yendri Junaidi melihat imbauan ini sebagai salah satu upaya yang baik dan sudah sewajibnya diikuti. Ia juga menilai berdiam di rumah bisa menjadi sarana atau media umat Muslim untuk bermuhasabah dan memperbaiki diri.

Ia menyebut dengan melakukan introspeksi diri, seorang hamba bisa lebih mengenal dirinya sendiri. Ketika musibah ini selesai, akan muncul pribadi dengan target dan kondisi yang baru.

Selain menghabiskan waktu dengan memperbanyak ibadah, membaca Alquran, dan berdoa, berdiam di rumah dapat diisi dengan mengenal diri sendiri. Yang mungkin selama ini sering diabaikan karena kegiatan-kegiatan yang kerap dilakukan.

“Setelah wabah ini berlalu, kita menjadi pribadi yang berbeda. Pribadi yang lebih tenang, dewasa, dan tidak mudah terpancing dgn isu atau omongan. Kita jadikan momentum ini untuk bermuhasabah dan mengenal diri sendiri,” lanjutnya.

Ustaz Yendri pun menyebut kejadian apapun yang terjadi di dunia, tidak ada yang murni baik maupun murni buruk. Dalam sebuah kebaikan terselip keburukan, begitu pula sebaliknya.

Dalam Hadis Riwayat Imam muslim, dari Shuhaib bin Sinan, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”.

Adapun dalam menghadapi musibah kali ini, ia mengajak umat Muslim untuk berikhtiar dan bertawakal. Ikhtiar dan tawakal harus berjalan seimbang dan tidak bisa menitikberarkan satu sisi saja.

Ikhtiar dilakukan dengan mengikuti anjuran pemerintah, seperti sering mencuci tangan, menjaga kebersihan, berdiam di rumah, serta menghindari kegiatan yang melibatkan banyak orang. Sementara tawakal dilakukan dengan memeprbanyak berdoa, ibadah, dan menyerahkan diri kepada Allah SWT.

Dalam HR Bukhari 3474, Aisyah istri Nabi SAW berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah tentang wabah penyakit tha’un. Maka Nabi SAW mengkabarkan kepadaku, Sesungguhnya wabah penyakit tha’un itu adalah siksa yang dikirimkan Allah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Tetapi Allah juga menjadikannya sebagai rahmat bagi kaum mukminin (yang bersabar menghadapinya).

Maka tidak ada seorang hamba ketika terjadi wabah penyakit tha’un tetap tinggal di negerinya (dalam riwayat Ahmad tertulis : “di rumahnya”) dengan sabar, mengharap pahala dari Allah (atas kesabarannya) dan mengetahui bahwa tidak ada yang menimpanya kecuali apa yang telah Allah tetapkan, melainkan ia akan memperoleh pahala seperti orang yang syahid.”

Perihal pernyataan sebagian masyarakat yang menyebut jika mendapat pahala syahid karena wabah, lantas mengapa harus bersembunyi di rumah, Ustaz Yendri mengingatkan bahwa Islam memberikan pandangan yang berimbang.

Ikhtiar dan tawakal harus berjalan berdampingan.

Hal ini juga dituliskan dalam HR Bukhari, “Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya.”

“Rasulullah SAW memerintahkan ada usaha. Usaha untuk tidak terkena penyakit itu. Harus ada keseimbangan antara tawakal dengan usaha maksimal. Jangan lebih mengedepankan tawakal, tapi mengesampingkan kemampuan manusiawinya,” ujar Ustaz Yendri.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Dompet Dhuafa, dr. Yenni Purnamasari menyebut, Indonesia saat ini tengah menghadapi fase 1 penyebaran Covid-19. Peningkatan jumlah pasien perlu menjadi perhatian semua elemen masyarakat Indonesia.

“Rasio kematian Indonesia kurang lebih 8,6 persen. Cukup tinggi dibanding dunia, dimana rasionya 4,63persen. Ini bisa terjadi karena temuan kasus positif masih memerlukan waktu dan sebaran kasus bisa jadi akan terus meluas,” ujarnya.

Ia menyebut saat ini yang menjadi konsentrasi penyebaran Covid-19 ada di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Pihak medis maupun pemerintah masih belum bisa memprediksi sejauh mana wabah ini menyebar.

3

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

922

Like Fanpage Kami untuk Artikel Terbaru! Berita Islam Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *