Kartini dan Emansipasi Wanita dalam Pandangan Islam

Jakarta, BIO.COM— Hari Kartini di Indonesia diperingati setiap tanggal 21 April, bagaimana peran kartini memperjuangan emansipasi wanita pada zamannya?

Raden Ajeng Kartini, gadis  kelahiran Jepara, 21 April 1879 yang dikenal sebagai pahlawan emansipasi wanita di negeri ini. Perempuan yang sudah mendobrak kekakuan pada masanya, sehingga munculah cara pandang baru di kalangan perempuan di Indonesia.

Raden Ajeng Kartini adalah simbol perjuangan wanita Indonesia dalam memperoleh persamaan hak antara laki-laki dan perempuan pada abad ke-19. Pada zamannya wanita tidak diperlakukan sama seperti laki-laki. Para wanita tidak boleh menuntut Pendidikan layaknya laki-laki. Sebaliknya wanita hanya dijadikan budak yang tak berpendidikan.

Perjuangan Kartini dinilai berhasil dan karenanya ia ditetapkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964.

Hingga tahun 1922, buku Habis Gelap Terbitlah Terang diterbitkan oleh Balai Pustaka dalam bahasa Melayu. Emansipasi yang disuarakan oleh Kartini adalah mengenai kesetaraan bagi kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Bagaimana islam memandang kesetaraan yang disuarakan Kartini?

Apa yang disuarakan Kartini sebetulnya sejak 1400 tahun yang lalu sudah mendapat perhatian dalam Islam, yang mengumumkan dengan lantang tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Saat itu kondisi masa jahiliyah sangat merendahkan kaum perempuan. Mereka terbelenggu dan mendapatkan perlakuan yang tidak adil layaknya budak.

Dalam QS Alhujurat ayat 13 Allah menyamakan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, yang membedakan bukanlah gender, melainkan tingkat ketaqwaan kepada Allah.

Di masa jahiliyah, perempuan diperlakukan tidak manusiawi. Banyak terjadi anak perempuan dikubur hidup-hidup. Di masa Rasulullah perempuan dihormati dan mendapatkan hak-hak sebagaimana laki-laki.

Maka tidak mengherankan jika Siti Aisyah radliyallahu ‘anha bisa berperan penting dan mewarnai kehidupan masyarakat. Ia banyak meriwayatkan hadits sebagaimana laki-laki.

Ia mampu menghafal dan meriwayatkan hadits tak kurang dari 2.210. Nabi bahkan mendorong perempuan sebagaimana laki-laki untuk mencari ilmu tanpa dibatasi waktu dan tempat.

Emansipasi yang disuarakan kartini sejatinya sudah ada sejak zaman Nabi. Hal ini menjadi pelajaran bagi umat muslim bahwa islam tak pernah merendahkan derajat seorang perempuan.

Islam tidak membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan. Sejatinya menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim, bukan hanya bagi laki-laki, namun juga bagi perempuan.

3

Redaksi:  admin [ Berita Islam Online Terkini & Terpercaya

922

Like Fanpage Kami untuk Artikel Terbaru! Berita Islam Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *